Sabtu, 26 Mei 2012

Hadiah ulang tahunku


Halo pembaca 17Tahun.Com, perkenalkan namaku Toni. Well, langsung saja kali ya. Ceritaku ini bermula kira-kira 5 tahun yang lalu. Saat itu umurku masih 16 tahun, yah mendekati 17 tahun. Aku ingat betul karena ceritaku ini terjadi berdekatan dengan ulang tahunku, dan mungkin sedikit berhubungan dengan ulang tahunku itu.
Hari itu adalah tepat satu hari sebelum hari ulang tahunku yang ke 17. Saat itu aku dan Mamaku sedang makan malam berdua. Oh iya ada yang hampir kulupakan. Sejak umur 15 tahun aku tinggal berdua dengan Mamaku. Orangtuaku bercerai ketika aku berumur 15 tahun. Dan aku memilih untuk ikut Mama. Entah kenapa tapi sejak kecil aku memang lebih dekat ke Mama. Mungkin karena Mama sangat sayang kepadaku.

Aku dan Mama tinggal di sebuah rumah yang lumayan besar. Maklumlah, Kakekku (dari pihak Mama) adalah pengusaha yang sangat sukses. Dan Mama adalah penerusnya. Oh iya sebagai gambaran, saat itu Mamaku masih berusia 33 tahun. Hari ulang tahun Mama terpaut dua minggu dari hari ulang tahunku. Mama mempunyai wajah yang sangat cantik. Berkulit kuning langsat yang menambah kecantikannya. Dengan tinggi dan berat sekitar 165 cm dan 45 kg membuat Mama terlihat sangat ideal. Sedangkan buah dada Mama kuperkirakan berukuran 36 yang nantinya ternyata terbukti perkiraanku salah.
Kembali ke cerita awal. Pada saat asyik-asyiknya aku melahap makan malamku, Mama tiba-tiba berkata, “Ton, besok kamu kan ulang tahun.”
Aku yang lagi enak-enaknya makan sih hanya mengangguk saja. Melihat aku yang tidak begitu menanggapinya, Mama berkata lagi, “Kalo Mama nggak salah umurmu udah 17 tahun kan?”
Dan seperti tadi, aku pun hanya mengangguk-angguk saja sambil tetap melahap makanan di depanku.
“Ton, Mama ingin ulang tahunmu besok menjadi ulang tahun yang berkesan buatmu. Jadi kamu boleh meminta kado apa saja yang kamu mau.”
Aku yang mulai tertarik dengan ucapan Mama pun bertanya, “Apa saja Ma..?”
“Iya, apa saja yang kamu mau,” jawab Mama.
Dengan hati-hati aku bertanya lagi, “Ma, Toni kan udah gede.”
“Betul, Mama tau itu. Lalu..?” tanya Mama penuh selidik.
“Toni rasa udah waktunya Toni tau yang namanya.. seks. Aku pingin rasain ngentot sama mama.” kataku dengan hati-hati.
Kulihat Mama agak terkejut dengan perkataanku barusan. Tapi setelah dapat menguasai keadaan, Mama pun tersenyum sambil bertanya, “Apa nggak ada kado lain yang lebih kau inginkan dari pada itu, Ton..?”
“Tadi Mama bilang boleh minta apa saja, kok sekarang jadi menolaknya. Kalo Mama nggak mau ya udah. Beri aja Toni kado sweater atau baju seperti ulang tahun Toni yang udah-udah.” kataku dengan wajah agak muram.
“Tu… Tunggu dulu donk Sayang. Kan Mama belon bilang mau apa nggak. Jadi jangan ngambek dulu donk.” kata Mama dengan wajah sabar.
“Jadi.. boleh nggak, Ma..?” tanyaku dengan tidak sabar.
“Ya gimana juga tetep saja nggak boleh. Tapi, gimana ya? Kita lihat nanti saja deh.” jawab Mama.
“Terima kasih Ma. Toni sayang banget sama Mama.” jawabku dengan antusias.
Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Seperti malam kemarin, aku dan Mama lagi makan malam berdua. Malam itu Mama terlihat cantik sekali.
Mama tiba-tiba berkata, “Ton, kamu Kamu beneran serius pingin minta kado ngentot sama mama?” tanya Mama dengan sedikit terlihat salah tingkah.
Aku yang memang sudah ingin langsung saja menjawab, “Iya, ma. Emang boleh?”
Mamaku jadi terlihat kebingungan setelah itu. Namun, setelah selesai makan Mama menggandengku ke ruang televisi.
“Duduk di sini Sayang. Tunggu sebentar ya..!” kata Mama sambil menyuruhku duduk di permadani.
Mama lalu masuk ke kamarnya. Tidak lama kemudian Mama keluar dari kamar. Aku terkejut, karena sekarang Mama hanya memakai baju tidur yang sangat seksi dan menonjolkan setiap lekuk tubuhnya. Di tangannya, Mama memegang beberapa buah CD. Mama lalu menuju ke VCD player lalu memasang CD yang dibawanya.
Setelah diputar, ternyata itu adalah VCD XX, VCD yang pertama kuingat berjudul ‘Chow Down’. Setelah duduk di sebelahku, Mama memandangiku sambil berkata, “Ton, mama gantiin hadiahmu dengan ini mau nggak?” tanya Mama.
“Cuma nonton film bokep ma? Ahh… itu sih sudah sering ma. Aku pinginnya ngentot sama mama” jawabku.
Mama semakin terlihat bingung dengan kata-kataku yang makin berani. Tapi tak berapa lama, mama mendekatkan wajahnya ke wajahku. Lalu sedetik kemudian Mama mulai mencium bibirku. Dengan refleks aku pun membalas ciumannya. Dan tidak lama kedua lidah kami pun bertautan.
“Mmmh.. mmhh.. mm..” hanya desahan saja yang terdengar kini dengan diiringi desahan-desahan dari film yang diputar di TV.
Aku memeluk Mama erat-erat sambil tetap berciuman. Mama pun terlihat sudah sangat terangsang.
Tidak lama tanganku pun mulai menggerayangi tubuh Mama. Tangan kiriku mulai meremas-remas payudara Mama dari luar baju tidurnya. Sedangkan tangan kananku mulai meraba-raba selangkangan Mama.
“Ahh..!” teriak Mama ketika tanganku menyentuh vaginanya.
Setelah sekitar 20 menit kami saling berciuman dan saling meraba, Mama melepaskan pelukan dan ciumannya. Lalu Mama menuntun tanganku untuk membuka bajunya. Tanpa diminta dua kali, tanganku pun mulai beraksi melepas baju tidur Mama dari tubuhnya. Sekarang Mama hanya memakai BH dan celana dalam saja. Mama tersenyum padaku lalu mendekatiku. Dan tidak lama, tangan Mama mulai berusaha melepas pakaian yang kukenakan. Aku hanya menurut saja diperlakukan begitu. Dan kini pun hanya tinggal CD saja yang melekat di tubuhku.
Dengan tubuh yang sama-sama setengah telanjang, aku dan Mama kembali berpelukan sambil berciuman. Hanya desahan saja yang terdengar di ruangan. Lalu perlahan tanganku membuka kaitan BH Mama. Melihat aku yang kesulitan membuka BH-nya, Mama tersenyum, lalu tangannya membantuku membuka BH-nya. Sekarang buah dada Mama yang indah itu pun terpampang jelas di depanku.
“Tetek Mama gede banget sih. Toni suka deh,” kataku sambil meraba payudara Mama.
“Dasar nakal. Pinter banget kamu ngerayu. Sekali lagi mama tanya. Kamu serius dengan permintaanmu ini, sayang?”
“Lha boleh nggak ma? Kalo nggak boleh ya sudah.” tanyaku balik sambil menggerutu.
Untung jawaban mamaku adalah menaruh jemari tanganku di bulatan payudaranya. Dan itu membuatku jadi paham dengan jawaban mamaku.
Tanpa dikomando dua kali, aku langsung saja menjilati payudara Mama yang sebelah kanan. Sedangkan tangan kananku meremas-remas payudara Mama yang sebelah kiri.
“Aahh.. Ohh.. *****..!” teriak Mama ketika buah dadanya kujilat dan kusedot-sedot.
Secara bergantian payudara Mama kusedot dan kujilati, sedangkan tangan kanan Mama meremas-remas batang penisku dari luar CD-ku. Dan tanpa sadar, Mama berusaha melepaskan CD-ku. Aku pun tidak mau kalah. Setelah puas menggarap payudara Mama yang besar itu, aku pun berusaha melepaskan CD Mama. Melihat kelakuanku yang tidak mau kalah, Mama hanya tersenyum saja. Sesaat kemudian kami berdua sudah telanjang bulat. Aku hanya dapat menelan ludah melihat tubuh indah Mama. Di selangkangan Mama, terlihat bulu-bulu yang tertata rapi membentuk segitiga.
“Ton, kontol kamu gede banget.” kata Mama takjub melihat batang penisku yang sudah menegang.
“Masa sih Mam..?” tanyaku seakan tidak percaya,
“Perasaan jauh lebih gede dari punya papamu.”
“Tapi tetek Mama juga gede kok. Emang tetek Mama itu ukuran berapa..?” tanyaku lagi.
“Ukuran 34B, emang kenapa sayang..?” tanya Mama.
“Hah… ternyata lebih kecil ya?” jawabku, dan tanganku kembali meremas payudara Mama sambil menggigitnya.
“Aauwww..!” teriak Mama, “Sakit sayang, masa tetek Mama digigit..?” kata Mama manja.
“Ma’af, Ma. Toni sudah nggak sabar ma.” jawabku sekenanya.
“Nggak apa-apa kok sayang. Tapi jangan kenceng gitu dong sayang. Sekarang lakukanlah apa yang kamu mau dari mama. Kamu percaya kan kalo mama sayang banget sama kamu?” kata Mama sambil tangan kanannya masih meremas-remas kemaluaku.
Aku hanya menjawab anggukan saja. Dan tidak lama Mama pun berjongkok, lalu tersenyum. Mama mendekatkan wajahnya ke kemaluanku, lalu mulai mengeluarkan lidahnya.
“Uuhh.. aahh.. enak Mam..!” aku berteriak ketika lidah Mama mulai menyentuh kepala penisku.
Mama masih menjilati penisku, mulai dari pangkal sampai ujung kepala penisku. Dan kedua bijiku pun tidak terlewatkan oleh lidah Mama. Aku hanya memejamkan mata sambil mendesah-desah memperoleh perlakuan seperti itu.
Setelah sekitar sepuluh menit, aku merasa kemaluanku berada di sebuah lubang yang hangat. Aku pun membuka mataku dan melihat ke bawah. Ternyata sekarang separuh penisku sudah masuk ke mulut Mama.
“Aahh.. oohh.. yeeahh.. enaakk ba..nget Maa..!” teriakku lagi.
Kuperhatikan penisku diemut-emut oleh Mama tanpa mengenai giginya sedikit pun. Lidah Mama bergerak-gerak dengan lincah seperti ular.
Dan sekarang kulihat Mama menyedot-nyedot bulu kemaluaku seperti mau dikeramasi.
“Maa.. enak Maa..!” aku hanya dapat berteriak.
Aku merasa ada yang mau keluar dari penisku, aku tidak tahan lagi, dan seerr.. Aku kaget juga, meski sebelumnya aku sudah sering keluar sperma dari tiap onaniku sambil membayangkan bercinta dengan mamaku.
“Wah, ma’af Ma. Toni nggak sengaja.” kataku buru-buru dengan napas yang masih terengah-engah.
Tapi apa yang terjadi, Mama malah menjilati air maniku yang berleleran. Gila.., sensasi yang kurasakan sangat luar biasa. Dan tiba-tiba Mama menyuruhku menggendongnya ke atas sofa. Setelah kududukkan dia, batang penisku dikocok-kocok lagi di depan wajahnya, terus disedot-sedot seperti makan es krim.
“Ayo Sayang..! Kamu pingin masukin kontolmu ke memek mama kan?” kata Mama.
Aku kaget juga. Tapi aku memang sudah tidak sabar lagi dengan itu. Mama memandangku dengan manja, sedangkan tangannya masih mengocok batang kemaluanku dengan jemari lentiknya yang mungil..
Aku mengikuti saja perintah Mama. Setelah itu Mama berdiri lalu duduk di sebelahku. Kedua kakinya dikangkangkan sehingga aku dapat melihat vaginanya dengan jelas.
“Sayang, janji ya kalo kamu nggak akan nakal lagi setelah ini..!” Aku mengangguk saja. Setelah itu Mama tidur telentang di atas sofa yang panjang. Aku langsung saja menuju bagian bawah pusar Mama. Kudekatkan wajahku ke vagina Mama, lalu kukeluarkan lidahku dan mulai menjilati vaginanya.
“Ahhh.. Aduh, mama belum pernah diginiin papamu, sayang..!” Mama meracau saat kujilati vagina dan klitorisnya kuhisap-hisap.
“Ohh.. Aahh.. Sudah.. sudah, cepetan masukin kontolmu saja, Sayang..! Mama udah nggak tahan..!” pinta Mama memohon.
Aku pun perlahan bangun dan mensejajarkan tubuhku dengan Mama. Kugenggam batang penisku, lalu perlahan-lahan kudorong pantatku menuju vagina Mama.
Ketika memasuki liang senggamanya, Mama berteriak-teriak, apalagi ketika separuh penisku mulai menelusuri dinding vaginanya. Baru pertama kali aku merasakan kenikmatan yang luar biasa seperti ini. Rasanya seperti diurut-urut, enak seperti dielus-elus daging basah dan kenyal.
“Aakhhh enak nggak, Sayang..! akhhh… Ya sudah, puasin nafsumu, sayang..!” jeritan Mama memenuhi kamar mandi.
Setelah sekitar 10 menitan, aku mencabut batang kemaluanku dari lubang vagina Mama. Mama terlihat sangat kecewa ketika aku melakukan itu. Dan tidak lama kemudian aku meminta Mama untuk berganti posisi. Kuminta Mama untuk menungging. Lalu dari belakang kuremas-remas pantat Mama yang semok itu. Lalu kuarahkan batang penisku ke bibir vagina Mama. Setelah kurasa tepat, lalu kusetubuhi Mama dari belakang dengan doggie style.
“Aduhh.. akhhh.. mama diapain sayang!” jerit Mama ketika kusetubuhi dari belakang.
Sedangkan aku pun tidak kalah hebohnya dalam berteriak, “Maa.. memek.. nya.. e..naak..!”
Rupanya gaya itu membuat Mama sudah tidak tahan lagi, sehingga sesaat kemudian, “Sayang Mama lemes. Aahh..!”
Mama berteriak keras sekali, dan aku yakin kalau kami tidak berada di rumah itu, orang lain pasti mendengar teriakan Mama.
Aku merasakan penisku seperti disiram cairan hangat. Walau kusadari Mama sudah mencapai puncaknya, aku tetap saja memompa batang penisku di dalam vagina Mama. Malah semakin giat karena sekarang liang Mama sudah licin oleh cairan Mama.
Dan tidak lama, “Maa.. Toni.. mau sampaaii nih..!” kataku ketika aku merasa mau orgasme.
“Cabut kontolmu Sayaang..!” perintah Mama.
Tapi aku nggak pedulikan perintahnya, karena aku memang ingin masukkan spermaku ke dalam rahim mamaku. Aku memang ingin mamaku hamil.
“Aahh.. oohh..!” hanya desahan itu yang keluar dari mulutku.
Dan, creet.. croott.. crot..! air maniku menyemprot sebanyak sepuluh kali ke dalam rahim Mama. Rasanya… benar-benar wow. Nikmat tak terkira. Aku benar-benar tak peduli kalo dia adalah mamaku.
Mama tampak kecewa dan sedih dengan kenakalanku itu. Tapi meski terlihat sedih, Mama menjilat-jilat batang penisku dan membersihkan sisa sperma yang masih menempel di kemaluaku, setelah ia melepas kontolku itu dari dalam liang senggamanya. Rasanya ngilu, nyeri plus gimana gitu. Setelah itu kami berdua menuju ke ruang TV. Aku dan Mama duduk bersebelahan dalam keadaan telanjang bulat.
“Kamu puas sayang..?” tanya Mama ketika sudah agak tenang.
“Luar biasa, Ma. Nggak ada kado yang sehebat tadi. Terima kasih, Ma.” sahutku.
“Mama bahagia kalo kamu puas. Sebenarnya Mama juga butuh itu juga.” jawab Mama.
“Lalu kenapa Mama nggak minta ke Toni..?” tanyaku lagi.
“Mama nggak pingin dapetin itu dari kamu. Mama nggak mau hamil anakmu, sayang.” sahut Mama sambil sedih. Tapi kemudian tangannya membelai rambutku. “Tapi ya sudahlah. Semuanya sudah terjadi.”
“Maaf ma. Tapi Ma, setelah ini masih ada ronde selanjutnya kan..?” tanyaku.
“Ha… Kamu masih pingin..?” jawab Mama kaget.
“Iya ma… Soalnya Toni sayang banget sama Mama,” kataku.
“Mama juga sayang banget sama Toni. Tapi apa harus dengan ngentot sayang?” jawab Mama.
Sayangnya responku adalah tak menghiraukan kegalauannya, sampai kemudian kami berdua melanjutkan persetubuhan kami sampai jam dua pagi. Setelah itu kami berdua tidur dalam keadaan telanjang bulat. Dan keesokan harinya aku dan Mama, yang kebetulan lagi tidak masuk kerja, berada di rumah dalam keadaan telanjang bulat selama sehari penuh. Dan tidak terhitung berapa kali kami bersetubuh. Sampai sekarang aku masih tinggal dengan Mama dan masih setia menyetubuhi Mama setiap hari, selama Mama tidak haid.
Itu adalah hadiah ulang tahun yang paling berkesan dalam hidupku.
TAMAT

Kamis, 10 Mei 2012

Anakku kekasihku


Kami sengaja berjalan kaki di sepanjang pantai danau yang luas itu. Air biru membuncah-buncah menghempas ke pantai. Angin terus semilir. Semua orang melirik kami. Aku memakai celana pendek yang longgar di atas lutut. Pahaku mulus dan putih, sementara kedua buah dadaku terbalut kaos ketat menantang. Aku terkagum-kagum pada pada tubuhku sendiri?

Ketika usia Jhon 5 tahun, suamiku meninggal dunia. Aku tak mau menikah lagi. Takut suamiku tak menyayangi anakku dan mereka hanya mau harta kekayaanku saja.
Jhon terus menempel di lenganku. Apakah dia juga bangga memiliki ibu sepertiku? Kutanyakan padanya.
"Apa mama mu ini masih cantik, sayang?” tanyaku manja.
"Masih Mam. Buktinya orang-orang selalu melirik paha mama, tetek mama dan pantat mama," jawab anakku. Aku tersenyum dan mencubit hidungnya.


Tak terasa kami sudah sampai di hotel, hanya dua meter dari bibir pantai danau.
"Apa kamu suka pada Mama?" tanyaku.
"Suka dong Mam." katanya dengan tatapannya yang nakal.
"Bagian mana yang kamu suka?" tanyaku menyelidik.
"Semuanya, Mam. Tetek Mama, bibir dan pantat Mama yang aduhai..." katanya memuji. Aku tersenyum. Biasalah, namanya anak, pasti memuji mamanya, bisik hatiku.
"Buktikan, kalau kamu senang pada bibir mama," kataku. Jhon meraih tengkukku dan melumat bibirku. Kubalas lumatan bibirnya, sampai dia gelagapan.
Clup... kecupan bibir kami terlepas. Aku tersenyum. Usiaku terpaut berbeda 21 tahun.
"Kita ke dalam, Mam" Jhon mengajakku meninggalkan teras hotel untuk memasuk ke dalam kamar. Kuikuti langkah Jhon.
Kutatap matanya yang berbinar-binar. Kuelus pipinya. Aku harus menatapnya jauh ke atas, karena beda tingi kami berkisar 11 Cm. Jhon memang tinggi dan atletis, mirip papanya.

"Ternyata, kamu hanya suka bibir mama saja," kataku.
"Tentu tidak," jawabnya.
"Lalu buktikan dong," kataku.
Jhon mendekatiku, Ditariknya baju kaos yang kupakai, sampai lepas. Kini dia melepas pengkait bra ku.
"Mam... aku suka. Besar sekali. Aku suka," katanya sembari mengulum pentil tetekku. Oh... kulumnya membuatku nikmat. Kini Jhon berjongkok dan melepas celanaku. Juga celana dalamku.
"Waaawww... indah sekali memek mama," katanya memuji. Disapu-sapunya bulu memekku yang masih lebat, tapi kutata dengan baik. Diulurkannya lidahnya menjilati bulu-bulu memekku. Lalu lidahnya menjelajah ke belahan memekku. Aku hanya mengelus-elus kepalanya dengan lembut.
"Kamu suka sayang?" kataku.
"Ya Mam. Aku suka sekali," jawabnya.
"Kamu juga telanjang dong. Kok Mama saja," pintaku. Jhon berdiri dan melepas semua pakaiannya. Sudah kuduga, kalau kontolnya pasti besar dan panjang, karean anakku memang tinggi dan kekar.

"Waaawww... besar dan panjang," kataku.
"Iya Mam. Mama suka?" tanyanya.
Iya. Mama suka sayang. Pasti nikmat sekali," kataku memuji dan ingin segera merasakannya.
"Dia milik Mama. Pasti mama akan menikmatinya" Dia menarikku ke kursi. Didudukkannya aku dipangkuannya. Tetekku mulai kembali diisap-isapnya dan bagian-bagia tubuhku mulai dielus-elusnya.
"Nikmat sekali tetek mama," katanya.
"Nikmati sepuasmu sayang. Mama juga suka," kataku meminta. Jhon menikmati pentil tetekku silih berganti kiri dan kanan. Tangannya mulai meraba-raba memekku. Salah satu jarinya sudah mulai bermain-main di lubang memekku dan klentitku disapu-sapunya. Aku sangat merasakan indah sekali. Aku memeluknya dan menjilati jidatnya saat tetekku masih terus diisap-isapnya.

"Mama sudah tak tahan sayang. Mama sudah ingin cepat merasakan ini," kataku meraba kontolnya yang sangat keras itu,
"Ayo nak, dimasukkan," kataku.
Jhon mengangkat dan membopong tubuhku dan meletakkanku ke atas tempat tidur yang empuk disela-sela debur ombak kecil danau biru itu.
"Cepat dong sayang. Mama sudah tak sabar ni," pintaku.
Jhon mengakangkan kedua kakiku dan menjilati memekku. Lidahnya berputar-putar di sana. Pantatku berada di ujung tempat tidur. Jhon berjongkok di lantai. kedua kakiku berada di bahu dan terletak di punggungnya. Lidahnya terus menjilati klentitku dan kedua tangannya meraba-raba perutku dan pantatku. Aku benar-benar sangat menikmatinya. Tapi...
"Ayo dong sayang. Aku menginginkan kontolmu yang besar dan panjang itu. Dimasukkan, nak. Ayo cepat," pintaku

Jhon sudah berada di antara kedua pahaku. Perlahan diarahkannya kontolnya ke memekku. Perlahan disorongnya.
"Ma... memek mama masih sempit, ma."
"Bukan memek yang sempit sayang, tapi kontolmu yang besar. Ayolah, cucuklah. Tapi pelan-pelan ya..." pintaku lagi.
Jhon mencucukkan kontolnya kelubangku yang sedai tadi sudah berair dan becek, mengeluarkan aroma yang sangat tajam.
"Oh... " kontol itu terasa panas dan menggesek lubang memekku. Aku merasakan kontolnya menembus memekku. Yah... makin kedalam dan semakin dalam, hangat dan menggairahkan.
"Ayo dong sayang. Jangan nakal..." kataku.
"Iya... mam. Biar masuk dulu semua.” Aku merasakan batang itu sudah habis tertelan memekku.
"Ayo dong sayang, apa lagi. Puasin mama dong..." pintaku lagi.
Perlahan Jhon menarik cucuk kontolnya di memekku. Terasa begitu seret. Aku merasakan gesekan kontolnya di dinding rahimku begitu hangat dan kesat. Aku merintih-rintih merasakan nikmatnya.
"Ayo dong sayang. Cepat dong... puasin mama," pintaku lagi dan lagi. Jhon sudah memelukku. Tubuhnya menindih tubuhku dan dia mulai menarik dan mencucukkan kontolnya secara teratur ke lubangku. Aku semakin merasakan kenikmatan tak dapat kulukiskan. Kenapa selama ini aku enggan memintanya? Sementara aku sudah tak mungkin lagi hamil. Aku sudah menutup kehamilanku dengan operasi kecil. Ketika itu, aku sendiri tak yakin pada diriku, karean nafsuku yang selalu ingin bersetubuh. Nyatanya, aku mampu menjaganya. Andaikan aku masih bisa hamuil, pasti aku menginginkan anak dari Jhon yang juga anakku.

"Jhon... cepat dong. Mama sudah tak tahan ni..." desahku kuat dan mencakat tubuhnya.
Jhon mengerti keinginanku. Dia mulai mempercepat kocokan kontolnya di memekku. Aku memeluknya sembari menjilati lehernya dengan rakus.
"Jhon... mama sudah mau sampai ni... Cepat dong..." aku mendesah lagi.
"Sabar Ma. Tar lagi. Tahan dulu, aku akan mencapai puncak," jawabnya.
"Mama sudah tak tahan sayang. Bisa rintok Mama, kalau begini. Ayo dong sayang..."
Jhon nmenarik rambutku dan memelukku kuat-kuat. Tubuhnya sepenuhnya menindih tubuhku dari atas. Kocokan kontolnya ke dalam memekku semkin cepat. Suara-suara gesekan kontol dan memekku membuat nafsu kami semakin menggebu-gebu. Basah, becek dan hangat.

"Ayo dong sayang... Mama sampai ni..." kataku memeluknya kuat-kuat dan terus mendesis. Jhon mempercepat kocokannya dan memperkuat pelukannya. Dia menekan kuat tubuhnya di atas tubuhku.
"Mama... aku akan sampai juga ni," katanya menekan sedalam-dalamnya kontolnya ke dalam lubang memekku, sampai memekku benar-benar penuh. Semakin penuh lagi, saat sperma kentalnya yang hangat lepas dari kontolnya.
"Maaaaa.... aku sampeeeekkkk..." katanya kuat. Semoga tetangga kamar sebelah tidak mendengar teriakannya.
Jhon memeluk tubuhku sekuat-kuatnya. Aku membalasnya dan melemahkan rangkulan kakiku di pinggangnya.

"Maaf sayang... nafas mama sudah tak tahan," kataku. Jhon menekan kedua sikunya, agar berat tubuhnya tidak menekan tubuhku secara penuh.
"Mama hebat..." katanya memuji dan merayuku.
"Yang hebat itu kamu sayang, mampu membuat mama orgasme sehebat ini," kataku.
"Aku mencintai Mama," katany.
"Mama juga mencintaimu sayang," jawabku dengan senyum pada nafas yang masih tersengal-sengal. Dibelainya rambutku dengan tulus. Di tutupinya tubuhku pakai selimut dan dikecupnya bibirku. Aku membalas kecupannya.

"Acara ke hotel ini harus kita lakukan sekali dalam sebulan," katanya. Aku mengangguk. Tapi bukan hanya di hotel itu saja kami melakukannya setelah yang pertama itu. di rumah atau ditempat lain.
Anakku Jhon juga kekasih hatiku. Aku mencintainya sebagai anak dan sebagai kekasihku.

Aku, Kak Rudi dan Mama


Sudah 2 minggu Papaku berada di luar kota karena urusan kantornya. Aku dirumah tinggal bersama Mama (41 tahun), Adik perempuanku (12 tahun), dan Kakak laki-lakiku (20 tahun), sedangkan aku sendiri berumur 18 tahun. Mamaku seorang wanita yang sangat menarik, wajahnya cukup cantik, kulitnya mulus, tapi aku nggak pernah kepikiran untuk menyetubuhinya, hingga pada suatu siang, aku nggak kekampus, adikku masih disekolah, sedangkan kakakku ada dikamarnya.
“Ataa…kemari sebentar, sayang!” Terdengar suara mama memanggilku dari arah kamar mandi. Aku langsung bergegas kesana,
Ada apa, mama?” Tanyaku.
“Sayang, tolong diputar kran air ini, keras sekali” Mama hanya mengenakkan handuk yang tidak terlalu lebar di tubuhnya. Paha mulusnya terlihat jelas, serta belahan dadanya yang indah nampak juga. Darahku sempat berdesir menyaksikan pemandangan itu.Aku langsung menuju keran air dan memutarnya, ternyata keran itu benar-benar keras. Aku mengerahkan semua tenagaku, dan akhirnya air memancar dengan deras sehingga mengenai sebagian pakaianku.

“Aku jadi basah nih mama” Kataku.
“Buka aja pakaian kamu, biar nanti mama yang nyuciin” Aku langsung membuka pakaianku kecuali celana dalam yang aku kenakan.
“Itu juga kan basah, dibuka aja sekalian” Kata mama. Aku jadi malu telanjang didepan mama. Akhirnya aku melepaskan celana dalamku. Batang penisku setengah berdiri menggelantung di selangkanganku. Mama tersenyum,
“Wah, besar juga anu kamu” Wajahku memerah, mama kemudian melepas handuknya dan memberikannya padaku
“Nih keringin tubuh kamu dengan ini”. Aku sangat terkejut, mama tidak memakai BH dia hanya mengenakkan CD saja. Buah dadanya yang bulat indah terpamapang jelas didapan mataku.
“Kok kamu jadi bengong begitu, belum pernah liat yang ginian yah?” Mukaku tambah merah. Mama kemudian membalikkan tubuhnya dan segera mandi dengan air yang memancar dari shower.
Aku belum beranjak sedikitpun.
“Nak, tolong punggung mama disabunin”. Aku mengambil sabun cair, dan mulai menggosokkan punggung mama. Aku rasakan kulit mama yang masih kencang dan lembut. Punggung mama yang mulus aku gosok namun bisa desebut membelai dari pada menggosok punggung mama. Kami menghadap sebuah cermin besar yang ada dikamar mandi, hingga bagian depan tubuh mama terlihat jelas dengan payudara yang masih kencang dan besar juga putting payudara mama yang berwarna coklat tua namun sangan indah dan kontras dengan kulit mama yang putih. Mama memejamkan matanya menikmati usapanku. Jantungku berdetak keras tanda deras nya aliran darah di dalam tubuhku yang membangkitkan hormon kejantananku dan juga nafsu yang semakin naik.
Dengan tangan yang agak gemetar aku mulai memutar gosokan tanganku di punggung mama agak ke dapan dan membelai bagian sisi tubuh mama. Aku semakin tak dpat mengontrol nafsu dan libidoku. Jiwa ku bergejolak antara tidak atau lakukan untuk mulai merangsang mama. Namun pertahanan iman ku jebol juga. Aku dekatkan tubuhku yang bugil makin mendekat tubuh mama, dan aku dekatkan kepalaku ke leher mama. Lalu kemudian kuberanikan diri untuk muncium leher mama, tanganku mulai meremas buah dadanya.
“Jangan, sayang, ini mama kamu”. Tapi mama tidak berusaha untuk melemaskan diri. Aku terus meremas-remas buah dadanya. Aku rasakan buah dada mama yang kenyal dan empuk. Dengan sabun yang masih ada di telapak tanganku, buah dada mama terasa sangat licin namun aku sangat menikmati remasanku di payudara mama. Mama memejamkan matanya dan bibirnya mulai terbuka dan aku melihat mama menggigit bibir nya sendiri, mungkin mama juga menikmati perlakuan aku, anak kandung nya sendiri.
“Oohh..sshh..jangaann, Ataaa..”. Tiba-tiba mama sadar, ia berbalik kearahku, mukanya sangat marah dan.. “Plaakk” tangan kirinya menamparku. Aku dan mama kemudian diam seribu bahasa. Lalu mama bersuara
“Apa yang kamu lakukan tadi, kamu mau menyetubuhi mama?”. Aku masih diam. Mama maju mendekatiku, aku jadi takut kalau mama akan menamparku lagi. Aku semakin tak karuan karena ketakutan. Ingin rasanya aku langsung lari keluar dan tidak akan bertemu mama lagi, namun..
“Kalo kamu mau begitu, baiklah, terus terang mama juga terangsang dan ingin merasakan batang penis kamu ini, tapi jangan sampai orang lain tahu.” Mama berkata sambil memegang batang penisku yang sudah tegang.
Seperti mendengar petir di siang bolong..!! nafsu ku yang sudah tidak dapat aku kontrol akhirnya mendapat penyaluran nya dan gejolak jiwaku lepas sudah saat mendengar perkataan mama tadi. Aku langsung memeluknya, saat tubuh bugil ku bersentuhan dengan tubuh bugil mama yang basah seakan ada hentakan listrik di dalam tubuhku. Kulit tubuh mama yang lembut kini bersentuhan kulit tubuhku. Libido ku naik hingga puncakya. Dan entah apa yang dapat aku lukiskan dengan kata-kata saat aku mencium bibir mama. Bibir ku bersentuhan dengan bibirnya, ku cium dengan penuh nafsu, mama pun membalasnya dengan liar. “Mmmmmhh..mmmhhh”. Lidah kami saling beradu satu sama lain. Tubuh kami saling berhimpit, buah dada mama menekan di dadaku,terasa hangat dan sensasi yang mama berikan sangat indah dan nikmat. Penisku juga menekan bagian bawah perut mama yang masih terbilang agak rata walaupun ada sedikit menggembung. Aku rasakan kehangatan tubuh mama walaupun tubuh kami dalam keadaan basah.Tangan mama megusap penisku. Akh.. nikmatnya saat jari-jemari mama yang panjang lemtik dan telapak tangan mama mengusap permukaan penisku yang makin keras dari pangkal hingga ujung kepala penis, sementara tanganku berada di buah dadanya. Aku remas dengan nafsu,namun aku ingin mama juga menikmati remasan anak nya pada buah dada mamanya, aku berusana meremasnya dengan lembut namun..
Mama kemudian turun kebawah kemudian jongkok, wajahnya kini berada tepat didepan batang penisku yang sudah tegang. Mama menjulurkan lidahnya kekepala pelirku dan akhirnya memasukkan batang penisku kemulutnya.
“Ooohh..sshh..eenaakk mama..maa”. Mama terus mengisap batang penisku. Lidahnya menjalar diseluruh permukaan batang sampai ke kantung zakar. Hangatnya rongga mulut mama sangat terasa di seluruh permukaan batang penisku. Mama memainkan lidah nya di uah jakarku. Lidah mama menyentuh lubang penisku, lalu turun sewrah dengan urat penisku, makin ke pangkalnya, lalu mama megulum buah jakarku. Aku bergidik menahan dan merasakan kenikmatan itu, lidah nya kemudian naik lagi menuju kepala penis dan saat sampai di ujung penisku, mama dengan lahap memasukan lagi penisku ke dalam mulutnya dang kemudian menghisapnya dengan keras. Aku pegang kepala mama ku sambil membelai rambutnya dan agak sedikti menekan kepala mama ke selangkangan ku. Nafasku makin teregah-engah, lalu aku melihat ke bawah ke arah mama yang dengan nafsu dan cepat mengocok batang penisku di dalam mulutnya. Aku melihat ekspresi wajah mama yang cantik dan terasa semakin cantik saat melihat beliau mengulum dan mengocok penisku. Aku makin merasakan sensai itu saat mama memandang aku kemudian berusaha terseyum walau penisku masih ada di dalam mulutnya.
“Sayaaang, kalo kamu udah pengen keluar, keluarin aja, nanti mama telan” sahut mama sambil mengulum kepala penisku. Terlihat ludah mama membasahi seluruh permukaan penisku hingga terlihat mengkilat dan ada cairan yang sedikit kental yang menempel di antara bibir dan batang penisku.
Aku yang memang sangat menikmati perlakuan mama sudah tidak dapat menahan untuk orgasme. Sambil melanjutkan kocokan nya mama meremas pantat ku Aku kemudian menyemprotkan cairan spermaku… “Crot..crot..crot…” aku semprotkan semua air mani ku di dalam mulut mama. Sambil sedikit mengerang dan sedikit berteriak aku leaskan seluruh nafsu itu di dalam mulut mama ku yang cantik. Mama langsung menelan semuanya, semua calon cucu-cucunya mama telan habis. Aku merasakan hisapan kuat di penisku.terdengat suara “Glek..” saat mama menelan semua cairan kental dari penisku. Lalu mama mengeluarkan penisku dari dalam mulutnya, mama mengusap bibirnya yang basah oleh spermaku dan kemudian melanjutkan mengulum penisku membersihkan sisa spermaku. Tubuhku seakan lemas, lutut ku seakan tidak dapat menahan lagi berat tubuh ini, penisku mulai melembek dan terasa agak linu di ujung nya tapi yang aneh biasanya bila aku onani, setelah aku menyemprotkan sperma.
Tak ada 1 menit penisku langsung lembek dan mengecil namun saat ini mungkin kodisinya masih keras 80%, melihat itu mama lalu tersenyum. Aku di biarkan oleh mamaku untuk beristirahat sebentar,namun tidak sampai 2 menit penisku mulai mengeras lagi, nafsu dan libido ku naik lagi melihat mama yang bugil. Mama lalu berbaring dilantai,
“Naaakk, vagina mama di hisap yaa..!” Aku langsung membungkuk dan menjiati seluruh permukaan memeknya.Kelentitnya aku jilat dan kugigit-gigit. Aku mencium aroma khas kewanitaan mama yang mebuat nafsu ku tak terkendali lagi. Aku merasakan cairan vagina mama yang bening dan terasa nikmat dan gurih. Aku hisap lubang tempat aku lahir dulu, aku masukan lidah ku ke dalam vagina mama yang lembut dan hangat itu. Vagina mama makin basah oleh cairan vagina mama dan juga oleh ludahku.
“Ssssshhhh…yeeeeeaaahh…teerruuss sayaaang” Tidak lama kemudian, mama sudah tidak tahan lagi, tubuhnya mengejang, pantatnya bergerak-gerak tak karuan.
“Ataa..sshh..mamaa sudah maauu keluaarr…sshh..ooh..yeeess” Cairan putih mengalir dari lubang senggamanya, aku langsung menelan seluruh cairan itu. Emh nikmat nya..
Tiba-tiba pintu kamar mandi yang tidak terkunci itu terbuka, kakakku Rudi masuk, dia sangat kaget melihat yang aku dan mamaku lakukan.
“Apa-apaan kalian, awas nanti aku adukan ke papa”
“Jangan, Rudi sayang, jangan dilaporin ama papa, kalo kamu mau kamu boleh ikut juga”. Kata mama Sementara aku hanya diam dan tak tahuapa yang harus lakukan.
“Boleh nih mam?” Rudi langsung melepaskan pakaiannya. Mama merubah posisinya. Dia sekarang nungging, kak Rudi berada didepannya, penisnya sedang dihisap mama. Kak Rudi terlihat menikmati isapan mama di batang penis nya. Aku berada dibagian pantat mama. Bongkahan pantatnya ku remas, batang penisku kumasukkan kedalam liang senggamanya. Liang itu masih terasa sempit.
“Oohh…yeess…mmhh…sshh”. mama mendesah saat perlahan batang penisku masuk menusuk ke dalam vagina mami yang lembut dan hangat.Aku memaju-mundurkan pantatku. “Clook..clookk..clook” aku merasakan jepitan dan remasan otot vagina mami di batang penisku. Daging vagina mama yang lembu, basah dan licin semakin membuat gerakan keluar masuk penisku makin lancar. Sambil aku kocok penisku di dalam vagina mama, aku remas buah dada mama dari belakang dan juga aku cium bagian belakang lehernya. Aku remas pantat mama, aku belai tubuhnya yang maiknbasah oleh keringat. Aku pegang pinggang mama yang ramping sambil aku tarik seirama dengan gerakan tusukan penisku di dalam vagina nya. Mama tampak sangat menikmatinya. Kupompa penisku menghujam vagina mama. Pantatnya yang montok beradu dengan pangkal pahaku. Kupeluk mamaku dari belakang sambil terus bergoyang perlahan meremas payudaranya.
15 menit kemudian mama berbaring menyamping, kak Rudi menyetubuhi dari belakang. Pantat kak Rudi maju mundur, kaki kanan mama terangkat keatas, tangan mama mengocok-ngocok batang penisku. Suara erangan aku, rintihan nikmat kak Rudi dan desahan mama memenuhi ruangan kamar mandi kami. Lalu, kak Rudi berbaring terlentang dilantai, mama naik diatas tubuhnya, penis kak Rudi berada diliang senggama mama, mama menaik turunkan pantatnya, sesekali mama membungkuk dan mereka saling mengulum di bibir.
“Maa, punyaku dimasukkan dimana niih” Tanyaku.
“Sini sayang masukkan di mulut mama”. Kata mama sambil terengah-engah dan mendesah menikmati sodokan dari kak Rudi. Aku lalu jongkok di depan wajah mama, aku pegang kepala mama yang berputar dan bergoyang berhenti, kak Rudi tidak berhenti-hentiya meremas buah dada mama malah kadang mengulum putting payudara mama yang membuat mama semakin keenakan.
Mama sangat menikmati perlakuan kedua anak kandungnya itu. Terlihat dari ekspresi wajah mama, mama mendesah nikmat, mengerang dan menjerit pelan saat kenikmatan yang mama rasakan makin memuncak. Nampak dicermin mama sedang disetubuhi oleh kedua anak laki-lakinya, posisi mama berada diantara aku dan kak Rudi.
“Sshh…sssshh..yeess..oohhyeee” celoteh mama yang makin tak kuasa menahan kenikmatan yang di berikan kedua anak kandung nya, dan benar tak lama tubuh mama tiba-tiba bergetar, bergidik dan diakhhiri desahan dan lengguhan panjang yang keluar dari mulut mama hingga tubuh mama abruk di atas tubuh kak Rudi. Kami yang menyadari mama telah orgasme mebiarkan beberapa saat untuk mama menikmati orgasmenya sebelum kami lanjutkan gerakan penis kami masing-masing di dalam tubuh mama.
Beberapa menit kemudian aku dan kak Rudi sudah hampir orgasme.
“Sini sayang,” kata mama. Mama jongkok dilantai, aku dan Rudi berdiri dedepannya. Mama mengocok dan mengulum penis kami berdua secara bergantian. Dan akhirnya ‘Crot..crot..crot..’ kami berdua orgasme, cairan sperma kami memancar hampir bersamaan. Aku dan kak rudi menikmati saat cairan kental dari penis kami muncrat dan memancar ke arah mulut mama. “srluup…srllllp… ” Mama menelan habis cairan kami. Sebelum menelan habis cairan sperma kami berdua, mama memainkan dulu cairan sperma kami berdua di mulutnya dan memperlihatkan kepada kami saat cairan putih kental itu memenuhi rongga mulut mama. Memang tidak semua cairan sperma kak Rudi dan aku mama telan ada sebagian yang menyebar di pipi mama. Lalu akhirnya mama kembali menelan calon-calon cucunya lagi. Mama membersihkan bibirnya dari sisa air mani kami berdua dengan mengusapkan tangan nya, lalu kami berciuman.Lalu kamu bertiga mandi bersama-sama. Sampai sekarang kami bertiga sering bersetubuh. Kadang-kadang aku dan mama tanpa kak Rudi atau sebaliknya, tapi tanpa sepengetahuan papa.

Terimakasih bu, kamu mau jadi istriku


Hay perkenalkan namaku Dodi aku dari pulau jawa tepatnya Jatim. Aku akan menceritakan pengalamanku menjadi kepala rumah tangga, tepatnya aku menikah dengan ibu kandungku. Ibuku seorang janda. Bapakku 10 tahun lalu meninggal, jadi hanya aku dan ibu saja di rumah ini, karena aku anak tunggal. Dari dulu ibu selalu memanjakanku, dan setelah aku berumur 20 tahun aku jadi timbul sayang yang lebih pada ibuku, tepatnya aku mencintai ibuku. waktu itu umur ibu sudah 37 tahun, tapi body ibuku yang montok kulit putih mulus itu yang membuatku mencintai ibu kandungku sendiri.

Akhir-akhir ini aku sering mengajak ibuku jalan jalan naik motor,itu kebahagiaanku bisa membonceng ibu kemana saja dia mau, aku ajak dia ke kafe layaknya orang pacaran,dan ibu juga tidak menolak,malah kalo kita mau masuk ibu mengandeng tanganku, waktu itu penisku langsung berdiri. Terus kita pesen meja dan kita berbincang bincang, dan akhirnya ibu tanya kepadaku yang buat aku susah mau menggungkapkan, "Kamu itu akhir-akhir ini kok sering bawa ibu ke tempat seperti ini to Dod,,,, Kenapa?" lalu aku jawab jujur saja, "
"Maaf bu,,, Sebenarnya aku ingin membahagiakan ibu,, tapi akhir-akhir ini aku jadi semakin sayang sama ibu, dan ibu harus tau, aku mencintai ibu, dan ingin memiliki ibu sebagai seorang kekasih atau suami,,,maaf buuu,,,," lalu ibu berkata "Ibu sudah tua nak,,,kan masih banyak cewek cewek yang lebih cantik dan muda,," "Tapi aku mencintaimu buuu,,,aku mati saja kalau ibu menolak cintaku,,,aku tau ini tidak boleh, tapi aku juga tidak mau sama wanita lain..." tiba-tiba ibu meneteskan air mata, dan aku terus peluk ibuku,,," Apa mungkin kita bisa menikah to nak??? Aku ibumu...." “Aku jawab mungkin bisa bu,,,, nanti aku akan cari cara yang penting mulai hari ini ibu menerimaku jadi suamiku dan ibu istriku,,,," Dan kita masih berpelukan terus tiba-tiba ibu melepas pelukanku dan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.. Dan aku cepat cepat mengajak ibu pulang,sesampai dirumah aku suruh ibu berdandan ala penganten dan akupun juga,terus kita keruang tamu duduk berdua, Aku sudah siapkan dua cincin dan aku selipkan cincin kejari ibuku dan ibuku juga melakukan hal yang sama. Lalu aku peluk lagi ibuku sambil kucium lehernya yang putih mulus dan wangi itu,,, Ibuku mendesis,,,"Ooohhhh,,,,mas,,,,,Dodi.....ibu sekarang menjadi milikmu,,,,,,dan kamu sekarang suamiku anakku,,,,,,ssssstttttttzz....." “Oohhh ibu......iya bu,,,,kau sekarang istriku ooohhh rosss aku mencintaimu dek rosss ....." Aku  juga panggil nama ibuku saja, karena tadi ibu panggil aku mas. Aku ajak ibuku ke kamar, sesampai di kamar kita menelanjangi diri kita, aku sungguh terpesona menyaksikan tubuh montok ibuku yang telanjang,, putih mulus tidak kalah dengan gadis belasan tahun. Kami terus merapatkan diri aku cium bibir ibuku dan ibu membalas lumatanku,,, Lidah kita saling membelit aku kasih ludahku ke ibu,, Dan ibu telan ludahku, lalu aku juga minta ludahnya aku juga telan ooohhh nikmatya buuuuu,,,,,lalu ibuku ku tidurkan ke kasur dan aku langsung menindihya aku ciumi lagi wajah dan leher ibuku dan daun telinganya aku jilat-jilat pindah keleher aku jilat dan ku gigit gigit sampai membekas merah aku jilati tengkuk leher ibuku yang ada anak rambutya itu,,, Ibuku tambah mendesis hebat sambil memanggil namaku "Ooohhh sayang,,,, nikmat mas,,,,,, ooowwwhhhh sssssstttzzzz,,,, ohhh anakku,,,,,,” aku juga merintih “Oooohh rosss kau sekarang milikku,,,,ssstttttzz nikmat sekali tubuhmu sayang,,,,ohhhh..." lalu ciumanku aku turunkan menelusuri tubuh ibuku dari leher ke pundak ke ketiak ibuku dan berhanti di buah dada yang montok itu, aku remas-remas dada ibuku dan ibu menggelinjang,,, aku telusuri lagi ciumanku dan berhenti di vagina ibuku aku jilat jilat vagina ibuku sampai ibu klimaxs,,,, lalu aku naik lagi aku cium lagi bibirnya sambil aku jilat jilat leher ibuku aku arahkan penisku ke vagina ibuku dan,,,,"Oooowwwwwhhhhssssssstttttzzzzzz masssss,,,,, enak sayang kontol mu........oooowwwwhhh sssssstttt" “Ooohhh bu,,,,, nikmat sekali vaginamu bu,,,,,,oooowwwwhhh....” Dan aku genjot ibuku kadang cepat kadang pelan, dan dua puluh menit kemudian aku sudah mau keluar dan aku tekan dalam dalam penisku ke dalam rahim ibuku,,,,,, sambil aku jilat jilat lehernya. “OOOOhhhhhhhh bu,,,,, aku mau keluar,,,,,!!!!!!!! aku mau menghamilimu sayangggg,,,,,, ooowwwhhsssssttttzzzzz" crot!!!crot@1!!!crot!!!!5X tembakan maniku tumpah ke rahim ibuku dan ibu juga kalimaxs lagi "Ooowwwhhhh,,,,ssssststtststttttttzzzzz mas Dodi anakku sayang,,,,,,,, hamili ibumi ini nakkkkkkk tubuh ibu milikmu sayang..... ssssstttttzzzz”. Dan aku masih berada diatas tubuh ibuku lama sekali,, lalu setelah 10 menit aku cabut kontolku dan aku tidur berpelukan sampai pagi. Hari-hari berikutnya kita sah suami istri setiap hari kita bersetubuh di rumah kita selalu bermesraan di luar rumahpun kita juga bermesraan....Hingga kini aku masih setia dengan ibuku 10 tahun lebih kita hidup layaknya suami istri, apa lagi kita memiliki anak hasil hubungan kita sekarang berumur 8 tahun.itu menambahkan rasa cinta kita,,,,,,,, terimakasih bu,,,, kamu mau jadi istriku.

Putra Tunggalku

Arisan ibu-ibu selalu saja memiliki gosip yang berbagai ragam. Mulai dari gosip berlian, gosip hutan piutang, bahkan gosip seks. Kali ini aku terkejut sekali, ketika seorang teman membisikkan padaku, kalau Ibu Wira itu, suka rumput muda. Justru yang dia sukai adalah laki-laki belasan tahun. Rasanya aku kurang percaya. Apa iya? Bu Wira yang sudah berusia lebih 50 tahun masih doyan laki-laki belasan tahun?

"Woalaaah...Bu Tuty masya enggak percaya sih?" kata Bu Lina lagi.
Aku sudah janda hampir 10 tahun, sejak perkawinan suamiku dengan istri mudanya. Aku tak nuntut apa-apa, kecuali Julius putra tunggalku harus bersamaku dan rumah yang kami bengun bersama, menjadi milikku. Aku sakit hati sekali sebenarnya. Justru perkawinan suamiku, karena katanya aku tidak bisa melahirkan lagi, sejak peranakanku diangkat, ketika aku dinyatakan terkena tumor rahim. Suamiku mengakui, kalau permainan seksku masih sangat OK. Dalam usia 37 tahun, aku masih kelihatan cantik dan seksi.


"Lihat tuh, Bu Tuty. Matanya asyik melirik anak bu Tuty terus tuh," kata Bu Salmah tetanggaku itu. Kini aku jadi agak percaya, ketika aku melihat dengan jelas, Bu Wira mengedipkan matanya ke putra tunggalku Julius. Rasanya aku mau marah, kenapa Bu Wira mau mengincar putraku yang masih berusia hampir 15 tahun berkisar 12 hari lagi.

Sepulang dari arisan, aku sengaja mendatangi tetangga yang lain dan secara lembut menceritakan apa yang diceritakan Bu Salmah kepadaku. Tetanggaku itu tertawa cekikikan. Dari ceritanya, suami bu Wira sudah tak sanggup lagi, bahkan suaminya sudah tahu kelakuannya itu. Bu Wira memang suka burung muda, kata mereka. Bahkan putra tetanggaku titu pernah digarap oleh Bu Wira. Karena malu ribut-ribut, lagi pula anaknya yang sudah berusia 18 tahun dibiarkan saja.

"Laki-laki kan enggak apa-apa bu. Kalau anak perempuan, mungkin perawannya bisa hilang. Kalau anak laki-laki, siapa tahu perjakanya hilang," kata tetanggaku pula. Bulu kudukku berdiri, mendengarkan celoteh tetanggaku itu. Aku kurang puas dengan dua informasi itu. Aku bertandang lagi ke tetanggaku yang lain masih di kompleks perumahan .....(Dirahasiakan) Indah. Tetangku itu juga mengatakan, kalau itu soal biasa sekarang ini.
Malamnya aku ngobrol-ngobrol dengan putraku Julius. Julius mengatakan, kalau Tante Wira sudah mengodanya. Bahkan sekali pernah menyalaminya dan mempermainkan jari telunjuknya di telapak tangan putraku. Pernah sekali juga, kata putraku, Tante Wira mengelus burung putraku dari balik celananya, waktu putraku bermain ke rumah Tante Wira.

Aku sangat terkejut sekali mendengar pengakuan putraku Julius menceritakan tingkah laku Bu Wira. Tapi tetanggaku mengatakan, itu sudah rahasia umum, dan kini masalah itu sudah biasa. Bahkan tetanggaku mengajakku untuk berburu burung muda bersama-sama.

Malamnya aku tak bisa tidur. Aku sangat takut, kalau putraku akan menjadi korban dari ibu-ibu di kompleks itu. Sudah sampai begitu? Semua sudah menjadi rahasia umum dan tak perlu dipermasalahkan? Lamat-lamat aku memperhatikan putraku. Ternyata dia memang ganteng seperti ayahnya. Persis fotocopy ayahnya. Walau masih 15 tahun, tubuhnya tinggi dan atletis, sebagai seorang pemain basket. Gila juga pikirku.

Rasa takutku marah-marah kepada Bu Wira, karena aku juga mungkin pernah dia lihat berselingkuh dengan teman sekantorku. Mungkin itu akan jadi senjatanya untuk menyerangku kembali, pikirku. Hingga aku harus menjaga anak laki-lakiku yang tunggal, Julius.

Ketika Julius pergi naik sepeda motor untuk membeli sesuatu keperluan sekolahnya, aku memasuki kamarnya. Aku melihat majalah-majalah porno luar negeri terletak di atas mejanya. Ketika aku menghidupkan VCD, aku terkejut pula, melihat film porno yang terputar. Dalam hatiku, aku harus menyelamatkan putraku yang tunggal ini.

Sepulangnya dari toko, aku mengajaknya ngobrol dari hati ke hati.
"Kamu kan sudah dewasa, nak. Mami tidak marah lho, tapi kamu harus jawab sejujurnya. Dari mana kamu dapat majalah-majalah porno dan CD porno itu," kataku. Julius tertunduk. Lalu menjawab dengan tenang dan malu-malu kalau itu dia peroleh dari teman-temannya di sekolah.

"Mama marah?" dia bertanya. kKu menggelengkan kepalaku, karena sejak awal aku mengatakan, aku tidak akan marah, asal dijawab dengan jujur. Aku harus menjadikan putra tunggalku ini menjadi teman, agar semuanya terbuka.

"Kamu sudah pernah gituan sama perempuan?" tanyaku.
"Maksud mami?"
"Apa kamu sudah pernah bersetubuh dengan perempuan?" tanyaku lagi. Menurutnya secara jujur dia kepingin melakukan itu, tapi dia belum berani. Yang mengejutkan aku, katanya, minggu depan dia diajak kawan-kawannya ke lokalisasi PSK, untuk cari pengalaman kedewasaan. Aku langsung melarangnya secara lembut sebagai dua orang sahabat. Aku menceritakan bagaimana bahaya penyakit kelamin bahkan HIV-AIDS. Jika sudah terkena itu, maka kiamatlah sudah hidup dan kehidupannya.

"Teman-teman Julius, kok enggak kena HIV, Mi? Padahal menurut mereka, mereka itu sudah berkali-kali melakukannya?' kata putraku pula. Ya ampun....begitu mudahnya sekarang untuk melakukan hal sedemikian, batinku.
"Pokoknya kamu tidak boleh pergi. Kalau kamu pergi, Mami akan mati gantung diri," ancamku.
"Tapi Mi?"
"Tapi apa?"
"Julius akan kepingin juga. Katanya nikmat sekali Mi. Lalu bagaimana dong? Julius kepingin Mi. Katanya kalau belum pernah gituan, berarti belum laki-laki dewasa, Mi?" putraku merengek dan sangat terbuka. Aku merangkul putraku itu. Kuciumi keningnya dan pipinya denga penuh kasih sayang. Aku tak ingin anakku hancur karena PSK dan dipermainkan oleh ibu-ibu atau tante girang yang sering kudengar, bahkan oleh Bu Wira yang tua bangka itu.

Tanpa terasa airmataku menetes, saat aku menciumi pipi putraku. Aku memeluknya erat-erat. Aku akan gagal mendidiknya, jika anakku semata wayang ini terbawa arus teman-temannya ke PSK sana.

"Kamu benar-benar merasakannya, sayang?" bisikku.
"Iya Mi," katanya lemah. Aku merasakan desahan nafasnya di telingaku.
Yah...malam ini kita akan melakukannya sayang. Asal kamu janji, tidak mengikuti teman-temanmu mencari PSK” kataku tegas.
"Berarti aku sama dengan Tony dong, Mi?"
"Tony? Siapa Tony?" tanyaku ingin tahu, kenapa dia menyamakan dirinya dengan Tony. Menurut cerita Julius putraku, Tony juga dilarang mamanya mengikuti teman-temannya pergi mencari PSK, walau Tony sudah sempat juga pergi tiga kali bersama teman-teman sekelasnya. Untuk itu, secara diam-diam Tony dan mamanya melakukan persetubuhan. Katanya, Tony memakai kondom, agar mamanya tidak hamil. Aku terkejut juga mendengarnya.

"Kamu tidak perlu memakai kondom, sayang. Mami yakin, kalau mami tidak akan hamil," kataku meyakinkannya. Seusai makan malam, Julius tak sabaran meminta agar kami melakukannya. Aku melihat keinginan putra begitu mengebu-gebu. Mungkin dia sudah pengalaman melihat CD Porno dan majalah porno pikirku. Aku secepatnya ke kamar mandi mencuci vaginaku dan membuka BH dan CD ku. Aku memakai daster miniku yang tipis. Di kamar mandi aku menyisiri rambutku serapi mungkin dan menyemprotkan parfum ke bagian-bagian tubuhku. Aku ingin, putraku mendapatkan yang terbaik dariku, agar dia tidak lari ke PSK atau tante girang. Putraku harus selamat. Ini satu-satunya cara, karena nampaknya dia sudah sulit dicegah, pengaruh teman-temannya yang kuat. Jiwanya sedang labil-labilnya, sebagai seorang yang mengalami puberitas. Begitu aku keluar dari kamar mandi, putraku sudah menanti di kamar. Dia kelihatan bingung melihat penampilanku malam ini. Tidak seperti biasanya.

"Kamu sudah siap sayang," kataku. Putraku mengangguk. Kudekati dia. Kubuka satu persatu pakaiannya. Kini dia telanjang bulat. Aku melapaskan dasterku. Aku juga sudah telanjang bulat. Aku melihat putraku melotot mengamati tubuhku yang telanjang. Mungkin dia belum pernah melihat perempuan telanjang sepertiku di hadapannya. Aku duduk di tempat tidur. Kutarik tangannya agar berdiri di sela-sela kedua kakiku. Aku peluk dia. Aku kecip bibirnya dengan mesara. Pantatnya kusapu-sapu dengan lembut, juga punggungnya. Dengan cepat terasa burungnya bergerak-gerak di perutku. Kujilati lehernya. dia mendesah kenikmatan. Lidahku terus bermain di pentil teteknya. Lalu menjalar ke ketiaknya dan sisi perutnya. Aku merasakan tangan anakku mulai memagang kepalaku. Kuperintahkan dia untuk duduk di pangkal pahaku. Kini dia duduk di pangkal pahaku, dengan kedua kakinya bertumpu ke pinggir tempat tidur. Tiba-tiba aku merebahkan diriku ke tempat tidur. dia sudah berada di atasku. Kuminta agar dia mengisap puting susuku. Mulutnya mulai beraksi. Sementara burungnya terasa semakin keras pada rambut vaginaku. Dengan cepat pula, kurebahkan dirinya. Kini aku yang balik menyerangnya. Kujilati sekujur tubuhnya. Batang burungnya, telur yang menggantung di pangkal burungnya. Ku kulum burungnya dan kupermainkan lidahku pada burung itu.

"Mami...geli," putraku mendesah.
"Tapi enakkan, sayang," tanyaku.
"Enak sekali Mi," katanya. Aku meneruskan kocokanku pada burungnya. Dia menggelinjang-gelinjang. Kuteruskan kucokanku. Kedua kakinya menjepit kepalaku dan...croot.croot.crooooooot! Spermanya keluar. Kutelan sepermanya dan kujilati batangnya agar spermanya tak tersisa. Aku sengaja memperlihatkannya kepadanya.

Kini dia menjadi lemas. Terlalu cepat dia keluar. Mungkin sebagai pemula, dia tak mampu mengontrol diri. Kuselimuti dirinya. 20 menit kemudian, setelah nafasnya normal, aku memberinya air minum segelas. Lalu aku membimbingnya ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Kusabuni burungnya dan kulap pakai handuk. Kini kami sudah terbaring berdua di tempat tidur.

"Enak sayang?" tanyaku. Dia menagngguk.
"Tapi Mi, kita kan belum begituan. Katanya kalau begituan, burung Julius harus masuk ke lubang memek Mami," katanya polos. Aku menganguk. Kamu harus segar dulu. Nanti kita ulangi lagi. Nanti kamu boleh memasukkannya ke lubang Mami, kataku.
"Kenapa nanti Mi? Kenapa tidak sekarang?" dia mendesak.
Dia sudah begitu menginginkannya pikirku. Langsung kulumat bibirnya. Kujulurkan lidahku ke dala mulutnya. Dia langsung meresponsnya. Kini dia berganti memberikan lidahnya padaku. Aku mengemutnya dengan lembut. Tanganku terus membelai-belai tubuhnya dan burungnya kuelus-elus. Sebentar saja burung itu bangkit.

"Naiki Mami, sayang," kataku. Dia naik ke tubuhku.
"Masukkan," pintaku. Dia mencari-cari lubangku. Kuarahkan burungnya dengan tanganku. Setelah burung itu terasa di tengah bibir vaginaku, kuminta dia menekannya. Dia menakan burungnya dan langsung masuk, karena paginaku sudah basah. Aku memang sudah sangat lama merindukan ada burung memasuki paginaku. Setelah terhenti 5 tahun perselingkuhanku dengan seorang duda teman sekantorku (sejak dia pindah) aku tak pernah lagi selingkuh.
Burung yang besarnya cukup itu, terasa sudah mengganjal di liang vaginaku. Kukangkangkan kedua kakiku. Aku membiarkan burung itu tenggelam di dalamnya. Tak lama kemudian, aku merasakan putraku sudah mulai menarik-cucuk burungnya. Aku biarkan saja, walaupun sebenarnya aku sudah agak gatal ingin meresponsnya. Lama kelamaan, aku tak tahan juga. Aku pun meresponnya dengan hati-hati, seakan aku hanya melayaninya saja, bukan karena kebutuhanku. Sambil memompa burungnya, kuarahkan mulutnya untuk mengisap-isap pentil payudaraku. Dia melakukannya. Aku sudah melayang di buatnya. Sudah lama sekali aku tidak merasakan kenikmatan itu, sementara usia yang 37 tahun, masih membutuhkannya. Kujepit kedua kakiku ke tubuh putraku. Aku orgasme dengan cepat. Aku tidak memperlihatkan, kalau aku sudah orgasme. Perlahan-lahan aku tetap meresponsnya, sampai aku normal kembali.

"Jangan digenjot dulu, sayang. Mami Capek. Isap saja tetek mami, sayang," pitaku. Aku tak ingin dia sudah orgasme, sementara aku masih jauh. Dia menjilati tetekku dan mengisap-isapnya. Atas permintaanku, sekali-sekali dia juga menggigit putingku. Libidoku bangkit. Aku mulai melayang. Aku mulai menggoyang tubuhnya dari bawah. Dia merespons dengan kembali menggejotku, menarik dan mencucuk burungnya ke dalam liang vaginaku. Aku mendengar, suara begitu becek pada vaginaku. Aku sedikit malu, karena selama ini, aku sudah tidak merawat lagi vaginaku. Tapi dia semakin semangat mengocokkan burungnya.

"Mami...aku sudah mau keluar nih..." katanya. Saat itu aku juga sudah mau muncrat. Aku percepat goyanganku, agar aku lebih dulu sampai pada puncak kenikmatan itu. Dan...dia memelukku erat sekali. Bahuku digigitnya dan sebelah tangannya mencengkeram rambutku. Ternyata kami bisa sama-sama sampai. Aku masih mampu mengatur irama permainan ini, pikirku.

Aku berkeringat dan putraku juga berkeringat. Perlahan dia ku baringkan ke sisiku dan aku menyelimuti tubuh kami dengan selimut tipis, sekaligus melap tubuh kami dari keringat. Setelah 15 menit aku bangkit dan meneguk segelas air putih. Segelas kuberikan kepadanya.
Julius berjanji untuk merahasiakan ini kepada siapa saja, termasuk kepada teman dekatnya. Walau menurut Julius, temannya sudah berhubungan dengan beberapa wanita di lokalisasi PSK, namun behubungan dengan ibunya jauh lebih nikmat. Aku juga memberi yang terbaik buat putraku, demi keselamatan hidupnya, terhidar dari PSK dan tante girang.

Aku menyangupi, memberinya cara lain bermain seks, seperti yang dia lihat di CD porno dan majalah-majalah, seperti doggystyle dan sebagainya. Malam itu, Julius juga bersumpah, tidak akan pergi mencari PSK, walau pun teman-temannya menuduhnya laki-laki kuper dan ketinggalan zaman, karena dia sudah mendapatkannya dariku dengan baik.
Sejak saat itu, kami selalu melakukannya secara teratur, tidak serampangan. Tentu saja di tempat tidur, di dapur, di sofa dan tempat-tempat lai di rumah kami dengan suasana yang indah. Bahkan kami pernah juga melakukannya di hotel, ketika kami wisata ke bogor. Semua orang memuji kegantengan putraku yang wajahnya imut-imut dan manja itu.

Kini putraku sudah SMA, Aku sudah persis 40 tahun. Orang bilang aku masih tetap cantik, karena aerobik. Sebeanranya, selain aerobik, aku juga melakukan hubungan seks yang sangat teratur.

Enak mah

Aku selalu melihat mamaku termenung, saat di rumah kontrakan kami dimasuki pengantin baru. Sesekali mamaku selalu berlinangan airmata. Tapi mama selalutersenyum bila aku mendekatinya. Saat kutanya kenapa mama meneteskan airmata, dia selalu menjawab dengan senyum.
“Itu karena mama sayang kamu, Wan,” katanya. AKu jadi berpikir, kalau sayang kenapa harus menangis,
bisikkukepada mama.
“Kamu belum mengerti, nanti kamu akan mengerti sendiri,” jawab mama. AKu justru mendesaknya untuk bercerita agar mengerti.

Satu malam, aku terbangun. Kulihat jam dinding, pukul 22.00. Kulihat mama berdiri di tempat tidur dan mengintip ke rumah sebelah melalui lubang dindin. Lampu di kamar kami sudah mati da gelap. Kecuali terlihat seberkas cahaya dari rumah sebelah. Dinding papan yang sudah tua itu menghasilkan lubang-lubang kecil. Aku jadi ingin tahu dan ikut mengintip juga. Karean keasyikan, mama tidak tahu aku ikut mengintip. Kulihat tante dan om Broto sedang asyik masyuk. AKu pernah mendengar cerita dari teman-temanku, apa itu bersetubuh dan bagaimana bersetubuh. Lalu aku dan teman-temanku melihat gambar-gambar porno. Aku pun berpikir, begitni yangdisebut bersetubuh. Kemaluanku jadi tegang, melihat tante dan Om Broto bersetubuh. Sampai akhirnya mereka berhenti bersetubuh dan menutupi dirinya pakai selimut. Mama melepaskan lubang intipannya. Saat dia mau kembali tidur, kami saling melirik. Mama jadi malu, karena tanpa sadar, aku dan mama sama-sama mengintip. Di tariknya tubuhku.
“Kamu mash kecil, kok ikut mengintip,” kata mamaku. Aku diam saja, takur dimarahi.
“Sudah jangan bilang siapa-siapa,” kata mamaku.
“Tapi aku mau seperti tante dan om Broto itu,” kataku.
“Hussss… kamu masih kecil. Gak boleh,” kata mamaku.
“Kapan baru boleh” tanyaku.
“Nanti kalau sudah mahasiswa,” jawabnya. Berarti aku harus menunggu lama. Aku masih SMP kelas 3, empat tahun lagi.
“Tapi ma…”
“Sudah. Jangan brisik. Nanti kedengaran orang. Malu,” mama memelukku dan menyelumutiku.

Aku tidak pernah kenal papaku. Kata mama dan nenek, papaku meninggal dunia sejak usiaku 3 tahun. Mama sengaja tidak menikah lagi, karena tak mau aku memiliki ayah tiri, walau terkadang aku iri melihat teman-temanku berjalan dengan ayah mereka.
Saat mama memelukku, aku merasakan, pentil teteknya menyingung bibirku. Kancing dasternya terlepas, mungkin.Perlahan aku mengisap pentil mama. Beberapa menit, mama melepaskan isapanku pada pentilnya. Aku kecewa. Tak lama, karean mema menggantinya dengan pentil tetek yang lain. Aku kembali mengisap pentilnya.
“Wan… apa betul kamu mau seperti tante dan om Broto tadi?” bisik mamaku.
“Iya ma. Mau. Aku mau tau. Kata teman-teman ngentot itu enak banget,” bisikku pula.
“Tapi kamu tak boleh cerita kepada siapa saja. Janji,” kata mama.
“Janji ma sumpah mati,” bisikku pula. Mama membuka dasternya, sampai mama telanjang. Mama juga membuka pakaianku.
“Naiklah ke atas tubuh mama,” katanya. Aku mengikutinya. Mama mengambil kontolku, lalu diarahkannya ke lubang memeknya.
“Tekan Wan,” bisik mama. Aku mengikutinya dan menekan kontolku.
“Keluar masukkan kontol nya Wan, sambil isap-isap tetek mama,” bisik mama lagi. Aku melakukannya. Mama memelukku. Kamu berpelukan. Aku terus emompa mama.

Tak tau entah berapa lama kami saling berpelukan dan saling berpelukan sembari mengisap tetek mama. Tak lama aku mengejang. Mama menjepit tubuhku dengan kakinya. Kami berpelukan.
“Tak dapat kubayangkan betapa nimatnya, saat aku melepaskan maniku di dalam tubuih mamaku. Mamaku juga memelukku kuat sekali dan menjepit tubuhku dengan kuat. Kami pun tertidur. Besoknya kami terbangun kesiangan.
Mama membawaku mandi ke kamar mandi. Kami mandi beruda. Di kamarmandi mama kembali mengingatkan aku, agar tidak menceritakan kepada siapapun. Jika aku bercerita, mama tidak akan mau lagi seperti tadi malam. Mama juga bilang, kalau aku akan diusir dari rumah dan tidak akan disekolahkan lagi. Aku berjanji.

Hari itu aku tidak sekolah dan mama juga tidak pergi kerja, karean sudah terlambat. Kami di rumah saja dan berjanji, besok harus sekolah.
Setelah sarapan pagi, mama rebahan di tempat tidur sambil membaca-baca majalah. Aku ikut rebah di sampingnya. Tetangga pada sepi, dan kami merasakan sunyi.
“Ma, boleh lagi sepertia tadi malam?” kataku. Mama tersenyum.
“Wawan masih mau?”
“Mau ma.” Kembali mama tersenyum.
“Tapi janji ya, tak boleh erita kepada siapa pun.” Aku mengangguk. Mama membuka pakaiannya sampai telanjang, aku juga. Kata mama sebelum begituan, kami harus berciuman dulu. Mama mengajari bagaimana berciuman. Mama juga mengajari, bagaimana menjilat memek mama. Semua diajari. Sampai aku merasakan semuanya nikmat.

“Sudah, kamu naiki tubuh mama,” katanya. Aku kembali menaiki tubuh mama dan memompanya. Kami bersetubuh dua kali pada hari itu.
Sampai pada satu hari, mama menangis. Katanya dia hamil. Aku gak mengerti banyak. Tapi mama bilang semuanya akan beres. AKu tak tahu. Yang jelas, secara bisik-bisik mama dan tante Lele yang bidan diam-diam mengincu kamar. AKu tak tahu apa yang mereka kerjakan di dalam kamar. Yang kulihat, dalam waskom ada darah segar dan mama sangat lemas dan pucat. Setelah beberapa tahun aku baru t ahu, kalau ketika itu mama mengugurkan kanduangannya, karena hamil bersetubuh denganku.

Setelah mama sehat betul, Tante Lela datang lagi ke rumah.
“Pakai kontrasepsi,ya, supaya jangan hamil lagi. Aku mengerti kebutuhanmu,” kata tante Lela. Kembali mereka berdua ke kamar. Kali ini, mereka keluar dengan snyum.
“Tunggu seminggu baru boleh.” kata Tante Lela. Mama menganguk.

Mama dapat rejeki. Kami pindah rumah KPR BTN type 36. Setelah pindah rumah itu, dua minggu kemudian aku ujian akhir dan lulus. Aku masuk SMU tak jauh dari rumah dan tempat kerja mama juga tak jauh dari rumah.
Di rumah baru, kami melakukannya sampai aku sarjana. Tak ada lagi yang kami takuti. Mama juga sudah operasi kecil, hingga tak mungkin hamil lagi.
Sampai aku bekerja, dan aku kini sudah menikah. Tapi setiap sekali seminggu, aku selalu memberi jatah kenikmata buat mama. Bahkan, kalau boleh aku jujur, hanya dengan mama, aku mendapatkan kepuasankuyang sejati. Tidak kepada isteriku, juga perempuan lain yang selalu kukencani. AKu suruh mama ambil pensiun, mama tetap menolak. Nanti kalau sudah masanya dipensiunkan, katanya.

Senin, 07 Mei 2012

Merawat mama plus


Liburan semester, Musa tak bisa kemana-mana, karena harus merawat mama-nya. Mamanya mendapat kecelakaan lalu lintas, hingga betisnya mengalami patah tulang dan tulang dekat bahunya juga patah. Dia harus dibawa ke ahli patah tulang, seorang dukun yang terkenal dari Sumatera. Sementara Papanya, harus dioperasi, karena perutnya sempat terburai saat kecelakaan terjadi. Papanya harus diopname dan masa krisisnya sudah habis, hingga baru dipindah dari ICU. Sedang Mamanya sudah dibawa ke rumah dari Dukun Patah Tulang. Musa sebagai putra tunggal, harus mondar mandir, rumah sakit dan rumah mereka. Dia juga menyediakan makanan untuk kedua orangtuanya.

Mamanya harus dipapah kalau tidak memakai tongkat. Musa yang duduk di semester 3 itu, harus siap mengurus kedua orangtuanya. Musa menyiapkan air panas untuk memandikan ibunya.
“Sudah Mama duduk dan aku akan memandikan Mama,” kata Musa yang sangat kasihan melihat mamanya, tak mampu mengangkat tangan kanannya dan harus bertongkat dengan susah payah.
“Tapi Mama kan tidak pantas kamu mandikan?”
“Kenapa?”
“Bagaimana mana mungkin kamu harus memandikan Mama?”
“Ya mandikan saja. Buka baju dan aku akan memandikannya,” Musa tegas. Dia tak mau mamanya bertongkat lagi. Mamanya yang bertubuh mungil dengan berat badan 58 Kg itu dibopongnya dengan gampang. Terlebih Musa tuga kali semingu selalu latihan fitnes sejak dia masih SMA. Musa mendudukkan Mamanya di sebuah bangku kecil, Kemudian kedua kakinya diselonjorkan ke lantai. Musa mulai mengangkat daster mamanya. Mamanya sangat keberatan. Tapi Musa tetap memaksa.
“Mungkin inilah pengabdianku, Ma,” katanya. Mamanya menatap wajah Musa sejenak. Musa tersenyum dan terus mengangkat daster mamanya ke atas dan Mamanya pun mengakat kedua tangannya. Kini mamanya hanya mengenakan celana dalam dan bra saja. Setelah itu, Musa mulai membuka ikat rambut mamanya, kemudian menyiraminya dengan air hangat yang ada pada ember besar. Sebuah gayung menyiduk air dari ember dan meluncur dengan beningnya mulai dari ubun-ubun Mamanya. Keseluruh tubuh Mamanya sudah basah. Musa meneteskan shampoo ke rambut Mamanya, kemudian mengucek-ngucek rambut mamanya, lalu penyiramnya kembali dengan air, sampai rambut mamanya bersih dari shampoo dan beraroma wangi. Musa pun menyabuni tubuh Mamanya dengan sabun. Mulai dari leher, sampai ke bawah. Musa cepat melepas pengait Bra Mamanya. Dan tersembullah tetek Mamanya yang putih mulus.
“Ah.. kamu nakal…” bentak Mamanya.
“Harus semua bersih,” kata Musa. Saat itu, Tak bisa dipungkiri, kontol Musa langsung menggeliat. Musa pun menyabuni tubuh Mamanya, sampai kedua buah dadanya dia sabuni dari belakang.
“Kamu ini gimana sih?” kata Mamanya. Musa diam saja dan terus menyabuni buah dada mamanya dan telapak tangannya mengelus pentil kedua buah dada itu.

Musa juga menyabunyi mulai dari ujung kakai Mamanya, sampai ke pahanya. Bahkan sampai ke pangkal pahanya. Musa memasukkan tengannya ke dalam celana dalam Mamanya. Saat Musa mulai menyentuh bulu-bulu halus di atas memek Mamanya, Mamanya mulai protes. Tapi sabun yang licin sudah membuat tanganMusa menyelusup menyabuni bulu-bulu memek Mamanya.

Setelah yakin semua tersabuni, Musa megambil gayung dan menyirami tubuh mamanya dengan air hangat itu. Yakin semua sabun sudah habis dari tubuh Mamanya. Musa mengambil handuk dan mulai melap rambut mamanya sampai kering, kemudian melap tubuh Mamanya. Musa juga melilitkan handuk pada pinggang Mamanya, Kemudian menurunkan celana dalam Mamanya.
“Kamu harus melakukannya juga?”
“Ya Ma. Tak baik memakai celana dalam yang basah. Harus kering,” kata Musa. Mamanya yang risih diam saja.
“Mama mau cebok bentar,” katanya. Musa mengambil sabun dan melepas handuk yang melilit di pinggang Mamanya, membuat Mamanya jadi telanjang bulat. Cepat Musa menyabuni memek Mamanya dan mamanya tak protes lagi, karena semua sudah terjadi.

Kembali Musa melap bagian tubuh Mamanya yang basah dan melilitkan kembali handuk pada tubuh Mamanya mulai dari pinggang. Musa pun membopong tubuh mamanya yang setengah telanjang itu ke kamarnya. Didudukkannya Mamanya di ranjang. Musa mengambil daster mamanya yang berih dan memakaikannya, tanpa Bra dan celana dalam. Setelah itu, Musa membaringkan Mamanya di tempat tidur, setelah menyisir rambut Mamanya. Dia mengambil makanan untuk Mamanya dan menyuapinya.
“Kamu baik sekali sayang,” kata Mamanya dengan suara haru.
“Bertahun-tahun Mama merawatku, kenapa aku tidak merawat boleh merawatmu, Ma”
“Kamu aku rawat ketika kamu masih kecil.”
“Andaikan aku kecelakaan sekarang, aku tidak boleh Mama rawat lagi?”
“Tentu aku akan merawatmu.”
“Sekarang aku sudah dewasa, apakah aku tidak boleh merawat Mama yang sangat aku sayangi?” tanya Musa. Mamanya terdiam sejenak.
“Boleh sayang. CUma saja Mama malu,”
“Malu. Lalu Mama harus menahankan rasa sakit tanpa perawatanku?”

Mamanya diam dan tertunduk, Kemudian mengangkat wajahnya dan tersenyum. Musa menyuapi Mamanya dan dengan nyaman dan menjadi manja Mamanya pun menyantap makanan yang disuapkan ke mulutnya. Usai itu, Musa minta izin untuk mengantar nasi ke rumah sakit untuk Papanya. Mamanya ingin ikut, tapi dijanjikan hari minggu Musa akan membawa Mamanya untuk besuk Papanya yang udah keluar dari ruang ICU. Musa juga berjanji pada Papanya untuk membawa Mamanya pada hari MInggu.

Dalam perjalanan, Muda terbayang terus akan tubuh Mamanya yang mulus, putih dan mulai timbul niat dalam dirinya untuk menyetubuhi Mamanya. Dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, Musa terus membuka toko mereka dan ingin rasanya dia menutupnya akan bisa bertemu dengan Mamanya dan memandikannya lagi pada sore nanti.

Sorenya, Musa kembali ke rumah sakit membawa makanan dari restoran Padang, kemudian kembali ke rumah dengan membawa pakaian kotor Papanya. Dengan laju dia melarikan sepeda motornya ke rumah. Setiba di rumah dia langsung menyiapkan air panas untyuk mandi mamanya, setelah mamanya diberikan makanan mi goreng yang dibawanya. Mamanya tersenyum melihat pengabdian putra tunggalnya yang sudah berusia 20 tahun itu,.

Setelah semua siap di kamar mandi, Musa meminta Mamanya untuk berdiri dari sofa. TV yang ditonton Mamanya dimatikan. Mie Goreng yang sudah dimakan di sisihkan. Tongkat dikesampingkan. Atas permintaan Mamanya untuk latihan berjalan dia mau memegang pundak Musa dan dibimbing untuk melangkah. Musa memeluk tubuh Mamanya dan Mamanya memeluk pundak Musa. Saat itu kontol musa mulai bergerak-gerak lagi, saat tetek Mamanya menempel di tubuhnya.

Sesampai di kamar mandi, Musa mengangkat daster Mamanya dari bawah ke atas. Setelah terlepas, tubuh Mamanya benar-benar telanjang bulat. Musa membimbingnya untuk duduk di kursi dan rambut Mamanya dibungkus agar tidak tersiram air. Musa melepas pakaiannya, hingga hanya tinggal celana dalam. Dia mulai mengguyur tubuh mamanya.
“Sebenarnya Mama malu diperlakukan seperti ini,” kata Mamanya di sela-sela tangan Musa menyabuni tubuh Mamanya.
“Tak ada yang perlu dimalukan,”
“Karena Mama wanita dewasa dan kamu laki-laki dewasa.”
“Lalu kenapa Ma?”
“Mama melihat kamu menelan semua tubuh Mama dengan tatapanmu dan membangkitkan libidomu.”
Musa diam Dia terus menyabuni tubuh Mamanya dengan telaten dan mengelus-elus buah dada Mamanya saat giliran kedua buah dada itu disabuni.
“Sudah lama aku menginginkan seperti ini, Ma,”
“Menginginkan apa sayang,”
“Menginginkan melihat semua tubuhg Mama yang cantik ini,”
“Apakah tubuh Mama masih cantik?”
“Masih Ma. Bahkan aku mengaguminya.”
Keduanya terdiam.
“Udah kamu mandi sekalian aja,” kata Mamanya. Maksud Mamanya mandi diguyur air, tidak harus telanjang. Tapi Musa justru dengan cepat melepaskan celana dalamnya, hingga dia juga bugil. Mamanya terkejut, saat melihat kontol Musa yang mulai mengeras dan besar serta Panjang. Dibuangnya wajahnya entah kemana agar tak terlihat, dia sedang memperhatikan kontol anaknya itu. Saat musa bersabun, dia juga menyabuni kontolnya dan mengelus-elusnya, hingga kontolnya semakin besar dan keras. Saat itu Mamanya menyaksikan sendiri bagaimana keras dan besar serta panjangnya Kontol Muisa, lebih Panjang dan besar dibanding kontol Papanya sendiri.
“Kamu tidak malu?” kata Mamanya.
“Tapi mama yang menyuruh aku mandi sekalian.”
“Tapi juga kan tidak harus telanjang seperti ini?”
“Kalau telanjang juga kan gak apa-apa?”
“Tapi burungmu mengeras dan panjang?”
“Mama suka?” Musa to the point. Mamanya diam. Ada rasa suka, ada rasa malu dan ada rasa marah.
Musa memeluk Mamanya dan berbisik di telinganya.
“Ma, aku mencintaimu.” Kemudian dia mengecup bibir mamanya dan mempermainkan lidahnya di sana. Lalu bibirnya turun ke pentil tetek mamanya dan memainkan kedua pentil tetek Mamanya
dan…
Tidak hanya memainka pentil Mamanya, Musa juga mulai mengelus tubuh Mamanya dan kemudian berakhir di selangkangan Mamanya. Musa merasakan ada sesuatu yang hangat di sela bibir memek Mamanya. Berlendir.

Musa tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan kemudian dia langsung mengulum kembali bibir Mamanya dan Musa yangsudah membaringkan Mamanya di atas rabnjang. dengan hati-hati memindahkan kaki Mamanya yang patah. Mamanya mendsis-desis. Kemudian Musa menjilati perut Mamanya, sampai akhirnya bermuara pada sela bibir memek Mamanya. Lidah itu menari-nari di sana dengan lincahnya.
“Musaaaa…..” suara Mama yang lirih. Musa tak menghiraukannya dan dia terus menjilati perut mamanya, kemudian kembali lagi terus ke memek mamanya. Sang mama juga meremas rambut Musa dan mendesis-desis.

“Jangan sayang. Ini tak boleh. Tak boleh…” kata sang mama mendesis-desis, namun remasan pada rambut Musa tak dilepasnya, malah mama menjepit kepala anaknya itu dengan kedua kakinya. Saat itu Musa merasa senang sekali. karena sebelah kaki mamanya yang kiri, sudah bisa ikut menjepit kepalanya.

Lendir membanjir keluar dari memek Mama. Perlahan Musa mengengkangkan kedua paha mamanya kemudian menindih tubuh mama yang terbaring. Dengan cepat Musa mengarahkan kontolnya ke memek mama dan menusuknya di sela bibir memek yang sudah berlendir itu.

“Akhhh….” mama mendesah. Musa secara perlahan terus menekan dan menekan kontolnya memasuki lubang mama. Mama memeluknya dengan kuat dari bawah sembari menggigit leher Musa.
“Aduuuuuhhhhh….” Mama menjerit kecil. Mulanya Musa kasihan, mana tau kaki mamanya yang patah itu tertindih olehnya. Namun kata aduh yang dikeluarkan oleh mama, sebuah kata aduuh karena nikmat. Musa menekan sejauh mungkin kontolnya memasuki lubang nikmat mama. Tak lama Musa merasakan buncahan lendir hangat memenuhi rongga memek mama dan mama pun melamaskan pelukannya. Musa mengerti Mamanya orgasme.

“Mama… mama sudah sampai….?” kata Musa sembari mulai memompa kontolnya perlahan-lahan dengan ritme yang tetap. Mamanya diam saja, Nafasnya masih belum bisa dia atur. Mama pun kemudian Mencubit pipi Musa dengan gemas. Musa semakin bersemangat, pertanda tidak ada yang harus diragukan lagi. Bibirnya menempel kembali ke bibir mama dan sebelah tangannya meremas-remas buah dada mama sedangkan kontolnya terus memompa lubang nikmat yang memancarkan aroma mesum.

“Mama aku sudah mau sampai…?” kata Musa, mempercepat kosokannya. Kembali Mama menjepit kedua kakinya ke tubuh Musa, walau kedua kaki itu hanya sebelah yang diangkat. Tangan mama memeluk erat tubuh Musa dan musa menekan sejauh-jauhnya kontolnya ke dalam lubang goa mama dan beberapa kali muncartlah sperma kental dari kontol Musa.

Nafas keduanya memburu, bagaikan kuda yang usai berpacu, kemudian tak berapa kembali norman. Kontol Musa mengecil dan terlepas sendiri dari dalam memek sang Mama.

Musa tidur di sisi mama dan membelai rembut mama. Musa mendengar ada suara isak tangis yang tertahan.
“Maafkan Musa Ma,” katanya.
“Tak ada yang perlu dipersalahkan. Kita berdua sama-sama salah, kenapa kita melakukan hal yang tak sepantasnya ini,” kata mama. Musa memeluknya dan mencium pipinya, sembari membelai lembut rambut mama.

Mama mengenang kembali segalanya. Belum pernah dia diperlakukan seperti itu. Memeknya dijilati dan dia bisa orgasme sampai dua kali. Bersama suaminya, dia jarang sekali bisa orgasme dan terakhir, setelah Musa berusia 3 tahun, boleh dikatakan, Mama jarang sekali mendapat sesntuhan dari suaminya.

Setelah semua reda, Musa memakaikan daster mama dan dia harus kembali mengantar nasi ke rumah sakit. Rumah sakit mengatakan, dalam minggu depan papanya sudah boleh pulang ke rumah dan harus dua hari sekali dibawa ke rumah sakit untuk berobat jalan. Musa senang sekali. Saat kepulangan papanya, dia membawa oibunya naik mobil ke rumah sakit dan betapa senangnya hati sang papa.

Seminggu sebelum penjemputan itu, antara Musa dan mamanya hampir setiap malam melakukan persetubuhan. Sang mama tidak malu-malu lagi, pada saat dia sangat membutuhkannya, dia tak malu merengek kepada Musa untuk disetubuhi.

Saat sang Papa sudah kembali dan harus mendekam terus di kamar karena belum bisa bergerak banyak dan dia tak boleh banyak bicara, saat ityu [ula Musa dan mamanyta bersetubuh di ruang tamu atau di ruang makan atau di dapur. Saat mamanya sudah bisa berjalan sendiri walau dengan tongkat, saat itu dia sadar, kalau dirinya sudah tidak haid lebih dari sebulan. Dibisikinya hal itu kepada Musa. Musa tersenyum, emendengar ada dugaan mamanya hamil,.
“Kamu ini bagaimana, aku hamil, malah kamu tersenyum senang,” kata Mama.
“Ya senang dong, mama. Sebentar lagi aku punya anak. Anak kita Ma.?
“Sssstttt…. jangan keras-keras, nanti kedengaran ama Papamu,” Mama menekan telunjuknya ke bibir Musa.

Selembar kertas dari laboratorium menyatakan hasil planotes yang diperiksa adalah positif, bayi dalam kandungan Mama berusia 35 hari.
“Apa yang kita lakukan sayang.” tanya Mama.
“Kita jaga kandungan Mama dengan baik,” kata Musa. Mamanya sangat terkejut kembali. Musa mulai menyampaikan rencananya dan mereka harus berterus terang kepada suaminya jika suaminya curiga. Sejak saat itu, keduanya tidak ragu-ragu lagi dan terus menerus melakukan persetubuhan. Papa pun sudah mulai bisa berjalan, walau dipapah. Tamu-tamu yang datang senyum-senyum melihat si Papa, walau sakit masih sangup melakukan persetubuhan. Tamu tidak menyangka kalau persetyubuhan itu adalah antara Mama dan Musa.

Hamil semakin besar. Saat itu si Papa langsung memangil mama dan Musa untuk berbicara di ruang tamu. Dengan hati-hati Musa yang mengerti perubahan wajah si Papa mengakui terus terang dan menyatakan itu adalah kekhilafan, dimana Mama sudah puluhan tahun tidak mendapatkan kepuasan bathin dari papanya.
“Maafkan kami Pa.” kata Musa menghiba minta diampuni. Papa tak menjawab dia hanya tertunduk. Mama merasa sedih sekali, karena dia sudah menghianati suaminya. Penghianatan bersama anak kandungnya pula.

Akhirnya si Papa mengangkat wajahnya dan dengan terbata berucap: ” hati-hatilah agar tiadak ada yang curiga atas hubungan gelap kelian ini,” katanya kemudian menundukkan wajahnya. Mama sedih, namun Musa tersenyyum dan menyalami Papanya dan mengucapkan terima kasih.

Sejak saat itu, Musa dan Mamanya sekamar. Mama pindah ke kamar Musam, karena si Papa tak mau lagi sekamar dengan isterinya.

Perut semakin besar dan hari yang ditungu tiba. Mama melahirkan.