Powered By Blogger

Senin, 07 Mei 2012

Gara-gara diintip anakku


Tidak ada yang bisa memaafkan dengan apa yang pernah saya lakukan. Yang pernah kami lakukan, lebih tepatnya. Suatu perbuatan yang tidak terpuji, maksud saya adalah pembenaran dari suatu hal yang buruk atau mungkin hal yang menjauh dari kesucian, dari tindakan buruk yang pernah kami lakukan. Tapi pasti ada alasan, pasti ada, pasti selalu ada konsekuensi dari suatu kelakuan yang buruk. Saya tidak meminta simpati dari para pembaca, tapi jika anda mempunyai empati dari cerita yang saya buat, saya harap cerita ini bisa membuat anda mengerti. Memang, alasan saya menulis cerita ini untuk mengklarifikasi dan sebagai motivasi dan kelemahan dan juga suatu kebutuhan yang didasari suatu kebodohan dan juga mungkin kesenangan dari sebuah hubungan sedarah kami, sewaktu saya menyetubuhi anak laki – laki saya.

Jika cerita ini memang terdengar klise atau sudah pernah di tulis, itu hanya disebabkan oleh kesamaan suatu keadaan perilaku Manusia. Namun cerita ini berdasarkan dari kisah saya. Robbie (pacarnya memanggilnya Robert, teman2 nya memanggilnya Rob, tapi aku tetap memanggilnya Robbie, anak laki2 ku yang sangat ku sayang) sekali lagi dia mengganggu privasi aku, sewaktu aku mandi. Yang ke-3 kalinya di dalam bulan ini. Dengan alasan sebelumnya bahwa adik perempuannya memakai kamar mandi kami yang lain, dan Robbie menjadi sangat benar2 cerdik dalam kenakalannya. (suatu alasan yang memang tidak bisa aku sanggah)

Saat pertama dia hanya buang air kecil, tapi dia lakukan dengan waktu yang lama, menggoyangkan penisnya, memasukan ke celananya dan menutup retsleting celananya sebelum dia berlalu. Memang seperti itu prosedurnya (kecuali memang karena harus melakukan sesuatu yang membutuhkan waktu yang panjang). Dia pernah menanyakan kepadaku tentang sesuatu (tapi aku lupa tentang apa) dan pertanyaan itu membuat dia semakin lama untuk keluar dari kamar mandi, aku jadi curiga dia berusaha untuk melihat sekilas tubuh telanjangku dari balik kaca plastic yang buram, tetapi tetap bisa memperlihatkan lekuk tubuhku yang langsing diusiaku yang ke- 38 ini.

Aku harus mengakui dimana aku tidak bisa menyembunyikan diriku lebih jauh, dari anak laki – laki yang berumur 16 tahun dan sebagai remaja masa kini, pasti sudah melihat banyak sekali tubuh wanita yang sedang telanjang. Sudah pasti saat dia sedang kencan (dan jika beruntung) dia akan mendapatkan semua kejujuran dan kebohongan apa yang disimpan wanita, tentang suatu rahasia yang berada diantara kaki wanita, secara pribadi. Sebenarnya aku tidak berpikir lebih tentang niatnya untuk mengintip ku sampai nanti, setelah beberapa saat Robbie muncul waktu aku sedang menyabuni tubuhku. Saat itu juga aku langsung membilas tubuhku dari sabun, dan seketika itu juga aku tersadar dengan isyarat bahwa aku tidak sendirian dirumah. Suamiku sudah pergi ke kantor pagi2 sekali, lalu dimana Sally ? Aku berkata di dalam hati.

“ Maaf, Mam”, terdengar suara dari anak lakiku yang mempunyai tubuh lumayan atletis itu. “ Sally memakai kamar mandi yang lain dan aku sudah putus asa tidak tahan ingin buang air kecil, jadi aku masuk ke kamar mandi Mama”. Kata Robbie kepadaku, sambil membalikan badan ke kloset, dan duduk di kloset, setelah itu saya melihat bayangannya dari balik kaca penghalang plastic dia menurunkan celana boxernya dengan sekali gerakan “ Dia bilang mau buang air kecil, tapi kenapa dia duduk di kloset dan melepas semua celananya”, aku bergumam di dalam hati. Setelah aku perhatikan, suatu perhatianku kepadanya yang tidak terlalu khusus,”Mmm..”, aku bergumam yang gumaman ku mungkin agak keras dan bisa terdengar diantara derasnya suara air pancuran, dan aku tetap melanjutkan membilas badanku. Dan diluar ruangan shower, aku melihat dengan sudut mataku ada semacam rupa gerakan yang berirama, dan sudah bisa dipastikan itu adalah gerakan yang sangat familiar.” Sepertinya dia sedang menarik Penisnya, benar gak ya..Hmmm”, aku jadi sedikit penasaran. Aku tidak bisa menahan senyum kecilku, ternyata aku melihat anak lakiku secara diam-diam melakukan onani di hadapan Mamanya yang sedang telanjang. Aku merasa seperti tergganggu tetapi juga merasa senang dalam waktu yang bersamaan, bingung sekali rasanya.

Yang membuat ku senang bukanlah sesuatu yang sedang dia lakukan. Tetapi Tubuh ku ini, setelah aku lihat2, aku bangga mempunyai tubuh yang bisa menjadi inspirasi bagi dia, itu yang membuatku jadi agak tersenyum nakal. Yang membuat ku merara terganggu dan risih adalah karena tidak ada tanggapan yang sesuai dari ku sebagai seorang Ibu, aku merasa bersalah karena aku tidak marah kepadanya. Tapi faktanya, malah membuatku seperti agak sedikit horny dan merasa berada di dalam keanehan yang eksotik, aku malah merasa sebagai penari striptis yang sedang tampil di dalam sebuah pelindung kaca.

Aku geser badanku dengan sedikit goyangan yang sexy, yang memperlihatkan lekuk tubuhku, dan aku mendengar meningkatnya tempo pergerakan genggaaman tangannya di penisnya. Di dalam sebuah gerakan tubuhku yang total tanpa aku merasa ragu untuk memperlihatkan bayangan lekuk tubuhku dari balik penghalang kaca platic yang buram itu, dan aku tidak tahu dari mana ide ini datang seperti spontan saja mengikuti naluri, aku majukan perutku ke menghadap plastic pelindung yang tembus cahaya itu tepat disebelanya adalah muka Robbie yang sedang mengintipku secara langsung.

Dengan aku memajukan perutku agak menempel ke kaca tersebut, otomatis dia melihat bagian gelap di bawah perut Mamanya yang memperlihatkan seperti semak tipis yang gelap yang sedang disirami oleh siraman air dari shower, dengan gerakan tubuh ku yang naik dan turun perlahan secara berulang – ulang, dengan sangat benar-benar memprovokasinya. Menurutku gerakan itu cukup memberikan dia serangan mendadak ke psikisnya dan membuat dirinya berpikir untuk mengambil tisu sebanyak-banyaknya untuk menahan semprotan derasnya aliran sperma yang mengalir deras dari penisnya, agar tidak bercucuran di lantai. Pikiran nakal yang ada di otakku adalah, menginginkan dengan sangat untuk menghisap bagian vital dari anak lakiku itu yang sedang dimainkan olehnya dan melakukan hisapan ketika spermanya keluar bagaikan air mancur. “ Tapi dia adalah anak laki mu”, protes hati nurani ku, sambil aku membalikan badanku menjauh dari wujud bayanganya yang sedang memuntahkan sperma, tapi jariku sendiri malah menyentuh Vaginaku secara spontan. Menurutku, mungkin saat itu kami mempunyai pikiran yang sama, tentang ketidak senonohan/lancang mengenai diri kami masing2, berpikir dengan memutar imajinasi kami tentang keuntungan atau keburukan yang akan kita dapatkan. “Ibu dan anak sama2 mempunyai nafsu sexual yang tinggi”, pikirku.

Aku menunggunya sampai dia keluar dari kamar mandiku, dia terliahat seperti terburu-buru saat keluar dari pintu kamar mandi. Aku tidak tahu, apakah dia sebenarnya tahu apa yang sedang terjadi, sehingga dia keluar cukup tergesa-gesa, atau dia takut diketahui oleh diriku, (jika memang aku tidak tahu, tapi mengapa tadi aku tempelkan tubuhku,agar dia bisa melihatku di kaca plastik ini?) Tapi sayangnya akibat ketergesa-gesaannya dia telah melewatkan pertunjukan besar dari ibunya, yang ternyata diriku juga merasakan orgasme, tidak lama kira2 tidak sampai 30 detik setelah dia keluar dari kamar mandi. Dan menurutku itu sangat memalukan!! Dan aku mengakuinya kepada diriku sendiri sesaat setelah aku pulih dari nikmatnya orgasme kecilku. Jika dia bukan anak ku, mungkin aku sudah tergoda. Aku mengingat kembali tetang aksi masturbasi kita antara aku dan Robbie yang saling berbalasan tapi secara sembunyi dan aku mengingatnya satu persatu, aku membayangkan jika aku jadi Robbie atau pada diriku sendiri, seperti kejadian yang terjadi begitu saja dan memang tidak terencana tapi memang sungguh nyata, meskipun diantara kita sekarang sudah tidak di ruangan yang sama.

Sampai pada suatu kesempatan, Sally anak perempuanku pergi keluar rumah pagi2 sekali. Dimana menurut Robbie, Sally pergi untuk melakukan suatu kegiatan di luar rumah. Jadi kesempatan kali ini, bisa digunakan Robbie untuk mengintip lagi Ibu-nya yang sedang telanjang. Apakah aksi Robbie sebelumnya, merupakan suatu kelicikan? Akankah dia melakukannya lagi, dan apakah tanggapanku yang harus aku buat kali ini? “Ah, tidak, Jangan” tapi pikiran nakalku berbisik,” Ayolah, sayang, biarkan inspirasi erotis itu datang dan ada diantara kalian berdua”,hal ini bisa membuatku nakal lebih jauh, dan libidoku yang tinggi ini ingin merasakan sisi gelap dari sebuah gairah yang terlarang. Bagaikan seorang permaisuri di dalam novel-novel romantis yang tertarik kepada Pemuda2 nakal, dan membayangakan pemuda tersebut sebagai sumber obsesinya, dan gairah kupun kembali menyala.

Aku mencoba untuk menempatkan diri dan berpikir, jika aku berada pada situasi itu, aku masih belum bisa menemukan jalan keluar mengenai masalah ini sampai dengan 8 hari kemudian, sekali lagi privasi ku diserang. Tapi kali ini, sesaat setelah aku selasai mandi dan bersiap untuk keluar dari kamar mandi, sebelum Robbie menyelesaikan aksinya. “ Upsss...!!”, kataku. Robbie, berdiri diatara aku dan handuk besarku yang masih tergantung di gantungan pintu kamar mandi, dan aku kembali masuk kedalam ruangan shower , lalu aku berkata “ Hey, sayang..tolong berikan handuk Mama, yang warna merah jambu, lempar saja handuk itu dari atas!! “

Saya melihat gerakan bayangan penisnya dari bayangan kaca plastik pelindung, sewaktu dia melemparkan handuk kepadaku. Aku segera memakai handuk dengan melilitkan kebadanku, dan aku segera keluar dari ruangan shower.

Sewaktu aku keluar, perasaan ku seperti meleleh. Aku melihat Robbie dengan celana pendeknya, yang sudah siap dengan ujung penis yang sudah terlihat keluar dari celananya. Handuk kecil yang ada ditangannya tidak terlalu lebar untuk menutupi penisnya, dari situ aku mulai mengerti. Anak laki – laki ku menatap dengan berani kearah tubuh ibunya. Dia menjulurkan tangannya ke penis untuk membetulkan posisi penisnya agar lebih nyaman. Dan dia mulai mengocok Penisnya di depan diriku, namun itu hanya asumsi ku saja mungkin apa yang ku lihat adalah salah, dan aku akan mencoba memikirkannya nanti. Saat pertama kali kami menggunakan kamar mandi bersama, mungkin dia terlihat seperti kejadian yang tidak disengaja, tapi lama kelamaan dan kali ini, dia lebih berani dan mempunyai maksud tersembunyi, dan sekarang, dia melakukannya secara nyata di depanku.”Sudah keterlaluan, menurutku” dan spontan aku langsung menampar mukanya dengan keras.

Akibat tamparanku, Robbie sangat kaget, dan akupun juga kaget, mengapa aku menampar Dia, aku agak sedikit merasa bersalah. Terlihat dari muka Robbie yang sangat kebingungan dan sangat sedih. Aku tahu bahwa mungkin aku telah salah bertindak, dengan tidak melihat situasi dan kondisi. Melihat kebingungan dan ketakutannya, sikap keibuanku pun mulai keluar, dan aku jadi tidak memperhatikan mengenai keadaanku sekarang yang sudah mendekati telanjang, hanya berbalut handuk merah jambu, tapi aku tetap acuh dan melupakan keadaan ku sekarang yang hanya berbalutkan handuk, aku langsung memeluknya dengan pelukan erat seorang ibu yang sangat sayang kepada anak laki-laki nya. Penisnya yang tadi berdiri tegak dan keras, menjadi agak lembek beberapa saat, tapi mukanya secara tidak langsung menempel pada payudaraku, karena dekapan pelukanku yang erat kepada dirinya.

Aku merasa menjadi sangat buruk di mata Robbie, dan aku ingin memberikanya suatu ganti rugi untuknya. “Oohh Robbie anaku sayang, maafkanlah Mama sayang, Mama tidak bermaksud untuk menyakitimu, soalnya Mama sangat kaget ketika membuka pintu shower, kamu sedang onani dengan mengintip Mama, dengan melihat tubuh Mama yang sudah tua ini”.

Robbie hanya terdiam, dengan mengeluarkan sedikit air mata, dengan tetap meneruskan pelukannya pada tubuhku dan terus menyandarkan kepalanya di Dadaku. Aku coba mengatakan kepadanya, agar kejadian ini tidak dianggap sebagai hal yang serius, dengan mengatakan,” Adakah yang Mama bisa lakukan untuk mu, agar kamu bisa melupakan kejadian ini, sayang?” , “ Apa yang bisa mama dapakan untuk bayi Mama ini, apakah kamu mau yang special dari Mama? Ayo, bilang ke Mama, Sayang!!!”

Sewaktu aku sedang membujuknya, aku merasakan Puting susuku yang sebelah kiri seperti dihisap. Ternyata setelah aku melihat kearah Payudaraku, Robbie telah berkata dengan tersirat melalui aksi mulutnya, apa yang dia inginkan dariku. Apa yang bisa dilakukan lebih, dari seorang ibu kepada anaknya kecuali menyusuinya, meskipun anaknya sudah berumur 16 Tahun. Hati dan perasaan ku seperti menabur rasa kemurnian kasih sayang dari seorang ibu untuk anaknya melalui bagian tubuh yang sangat intim, yaitu putting susu ku ke Bibir Robbie. Rasanya aku ingin memelihara kedekatan fisik, tubuh kami antara aku dan anak ku, sebagai moment yang manis. Sama seperti saat Robbie masih bayi. Tapi dengan bertumbuhnya kedewasaan diantara kami, pasti akan menimbulkan image yang buruk.

Aku merasakan Penisnya mulai mengeras dan berdiri tegak kembali, dan artinya hisapan di Puting susuku terasa bukan hisapan yang kekanak kanakan, tetapi dengan mengerasnya Batang penis Robbie, memperlihatkan bahwa dia sedang berada di dalam samudra gairah yang tak tertahankan!! Gelombang gairah itu pun akhirnya juga menerpa dan mulai merasuki ku, dan aku mulai terangsang sangat hebat, sikapku pada saat itu mulai berubah dari seorang wanita yang sangat keibuan menjadi seorang Ibu yang sangat menginginkan bercinta dengan seorang pemuda yang umurnya terpaut jauh lebih muda dariku (MILF). Saya mulai merasakan telapak tangan Robbie, meluncur turun kebawah perutku dan jari2nya menuju kearah lipatan vertikal ku yang ditumbuhi bulu halus, yang memang sangat aku rawat, dan sekarang vagina ku sudah mulai basah oleh cairan kewanitaanku, karena rangsangan yang hebat yang aku rasakan dari rabaan jari – jari Robbie. Dia pasti tahu dengan apa yang dia lakukan kepadaku dan akan membuatku menggeliat, dimana tangan kanannya meyeruak masuk kedalam Vaginaku dan jarinya memainkan bagian yang paling tervital di tubuhku, jarinya mulai memelintir dengan halus klitorisku, dan aku merasakan aliran darahku yang deras berdesir ke seluruh tubuhku, suatu kenikmatan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata, aku merasa seperti melayang jauh tinggi ke awan. Yang kurasakan ini mungkin karena, Anaku sendiri yang membuatku jadi begini, memang rasanya terasa sangat jauh berbeda , saat aku melakukan ini dengan suamiku.

Tanpa sadar aku terus memajukan pinggulku untuk penetrasi ke dalam sentuhannya jari2nya, kami lakukan ini dengan sangat perlahan, dan aku sangat menikmatinya. Robbie memindahkan mulutnya untuk menghisap puting ku yang satu lagi, dan jari dari tangan kirinya tetep menusuk kedalam liang vaginaku, sambil kadang memencet klitorisku dengan lembut, dan aku rasakan sisa jarinya yang masih diluar liang vaginaku meraba bibir anusku dengan nakal, kadang dimasukan atau menggesek gesek bibir anusku. Aku mulai merasa kehilangan kontrol terhadap situasi yang terjadi saat itu, aku sangat yakin bahwa aku tidak mempunyai kehendak untuk menghentikan cekramaan dari rangsangan gairah nafsu yang sedang membakar kami berdua. Yang terjadi malah aku mencengkram Bantang penis anaku yang mengacung tinggi dan keras, yang selama ini anakku pamerkan kepadaku tapi aku acuh tak acuh, dan aku merasakan kekuatan dari seorang lelaki yang mempunyai nafsu seperti binatang. Semakin aku berpikir liar, dan aku semakin terangsang sangat hebat. Sentakan dari desiran darah di dalam adrenalinku merasuki sistem pertahanan tubuhku, dan aku dibuat sangat lemah karenanya, aku sudah melupakan kejadian saat aku menamparnya tadi. Dan aku merasakan lututku mulai melemah.

Robbie mengetahui bahwa memang pertahananku sudah runtuh, dan dia juga tahu bahwa ibunya sudah pasrah dengan rangsangan dari kenikmatan siksaan yang dia berikan dan dengan mudah dia membaringkan tubuhku ke lantai. Karpet berwarna merah muda pekat, dengan bahan kain sedikit berbulu, melapisi lantai kamar mandi utama kami, dan menjadi bantalan yang empuk dah halus yang memang tepat sekali untuk alas bercinta yang sangat indah, aku merasa badanku seperti perlahan melayang jatuh saat tubuh telanjangku terbaring, lebih tepatnya dibaringkan diatas bulu2 halus di karpet itu dengan dibantu oleh Anak lakiku tercinta yang kuat dan sangat tampan. Setelah tubuhku terbaring di lantai, Robbie langsung memeluku, aku berada di bawahnya yang juga menyambut pelukan itu dengan langsung mencium bibirnya dengan penuh gairah yang tertahan untuk diledakan, aku merasakan mulut Robbie dan merasa anaku ini juga ingin di explor olehku,lidahnya menelusuri tiap inci dalam mulutku, baru kali ini aku merasakan tentang Robbie anak laki2 ku yang ternyata sangat hebat dalam bercinta. Aku sempat terpikir, dengan apa yang sedang terjadi sekarang, dan dampak apa yang terjadi setelah kejadian ini, dan lama kelamaan bersama dengan desiran angin asmara diantara aku dan Anakku, pikiran itu hilang terbawa gelombang kenikmatan surga yang datang menerpa diriku dan aku merasa seperti tubuhku sedang melayang terbang jauh menuju sebuah Bintang yang memberikan harapan tentang kenikmatan suatu keintiman Seks yang indah yang mungkin akan aku rasakan dan diberikan oleh anaku sendiri.

Diriku semakin haus akan kepuasan, bukan saja haus melainkan aku sudah sangat merasakan lapar akan kenikmatan Bercinta, aku sudah sangat basah, aku sempat berpikir biarlah aku Hamil dari anaku sediri, semua sudah kepalang basah, yang penting aku hanya mau kenikmatan itu, aku arahkan agar Robbie untuk segera memasukan batang Penisnya yang lumayan besar itu untuk segera menerobos masuk ke dalam Vagina ibunya yang merah merona dan merekah yang sudah sangat banjir akan cairan2 kewanitaan. Aku mulai menggenggam lengan atas Robbie, dan merasakan otot bisep dan trisepnya yang semakin membuatku bergelora, dengan ketelanjangan kami berdua, aku merasakan bersatunya tubuh dan badan kami antara ibu dan anak, dengan sensasi yang benar-benar luar biasa, merasakan kulit ku bersentuhan langsung secara penuh dengan kulitnya tanpa adanya batasan dan halangan dan kami lakukan dengan tanpa ada rasa tabu diantara kami. Tubuhku sudah mendekap erat tubuhnya dan memperlihatkan suatu buaian – buaian kasih sayang dengan penuh nafsu dan rongrongan birahi. Aku menjadi birahi kepada anak lakiku, sangat dan teramat sangat, sehinggap Robbie dapat dengan mudah membuat serapat mungkin tubuhnya kepadaku agar dia dapat lebih leluasa untuk menentukan posisi yang nyaman untuk menyetubuhi ibu kandungnya sendiri, yang mungkin terkesan kuno tapi klasik dengan cara bercinta lelaki diatas perempuan. Dalam situasi berciuman kami yang penuh dengan hasrat dan birahi, aku bisa merasakan Penisnya mulai menyodok dan mulai mendorong mencari lubang Vagina ibunya sendiri yang memang sudah basah, banjir oleh cairan yang licin dan lengket yang sudah siap untuk diterobos masuk, pintu kenikmatan surgaku seperti diketuk sudah siap kubuka, kenikmatan surga duniawi yang penuh dengan dosa, tapi sangat indah dan luar biasa, Surga duniawi sudah menunggu kami, dan kami berdua siap melayang terbang kesana menggapai kenikmatan yang terbalut dengan indahnya dosa. Birahi kami sudah sangat tidak bisa kami tolerir. Tiba-tiba aku merasakan suatu sensasi yang sangat sulit untuk diungkapan, tanpa tuntunan tangan ku ternyata penisnya telah menyeruak menerobos masuk dengan hentakan nafsu binatang seorang anak Laki2 dan terus mendesak terpompa semakin dalam dan semakin dalam ke liang Vagina ku, dengan ukuran besar dan panjangnya penis anaku aku sedikit merasakan agak ngilu pada bibir Vagina ku, tapi rasa sakit dan ngilu itu terhapuskan oleh buaian gelombang nafsu birahiku yang sedang berkobar, dan aku merasakan suatu sensasi nikmatya dari suatu hujaman yang bisa menggapai rahimku, dimana kesucianku sebagai seorang ibu telah terengut dan dirampas oleh anak kandungku,yang selama ini hanya aku khususkan untuk suami ku tersayang, dengan jujur aku katakan aku menikmati terenggutnya dan terampasnya kesucian ini, kesucian dari sebuah Vagina, sebuah rahim seorang ibu yang bisa menghasilkan sumber kehidupan dan benih dari suatu kehidupan baru.

Penetrasi demi penetrasi kami lakukan bersama, suatu dorongan, desakan dan hujaman demi hujaman Penis anak ku kedalam Rahim tempat dimana dulu dia dikandung. Penetrasi itu menimbulkan setruman setruman, yang secara intensif dari setiap gerakan didalam persetubuhan fisik kami dalam suatu hubungan sedarah/inces, yang termotivasi lebih dari suatu pengorbanan ungakapan cinta dari sepasang manusia. Hujaman Penisnya keluar dan masuk seperti itu berturut turut kedalam Vaginaku, dan aku dengan sangat senang menerima hujaman tersebut ke dalam vaginaku, pasti kami merasakan rasa persetubuhan yang sama indahnya, suatu sensasi kepuasan yang belum tentu bisa di gapai oleh orang lain. Kenikmatan dari persetubuhan yang nista ini bagaikan binatang yang tidak mengenal ayah ibu atau anak, yang terpenting adalah kepuasan, aku merasa menjadi seorang yang primitive seperti tidak ada laki2 lain di dunia ini yang bisa memberikan aku kepuasan tanpa batas, erangan demi erangan kami lakukan, desahan demi desahan, dan jeritan jerita kecil yang ku ungkapan ke telinga Robbie membuatnya semakin Liar menghujamkan penis besar dan panjangnya itu sedalam dalamnya kedalam liang Vaginaku sehingga aku merasakan sodokan pada rahimku. Basahan dari keringat kami berdua yang membasahi sekujur tubuh kami, menimbulkan suara tepukan yang terdengar sangat dramatis, setiap tepukan dari bagian tubuh kami dari kulit yang basah oleh keringat, pertemuan antara selangkangan ku dengan selakangan Robbie yang menimbulkan suara tepukan dipadukan dengan nikmatnya Sodokan, dan jeritan, sangat sulit diungkapkan. Yang pasti sangat nikmat. Tubuh kami terkunci dalam suatu dekapan erat yang tak terlepaskan, dadanya mendekap dadaku sehingga payudaraku tergencet dan tertumpah menyembul ke samping diantara badanku dan dia, pinggul dan pahanya menghantam pinggul dan pahaku naik turun dengan sangat perlahan tapi pasti dengan nafsu birahinya kepadaku, dengan erat aku cengkram kedua pantat sexy anak ku, membantu mendorong membuat hujaman2 keras dan sedikit kasar untuk Vaginaku, gerakan yang sangat bermanfaat dan membuat kami seperti terbang bersama sesaat, merasakan hujaman demi hujaman yang dia lakukan terhadapku.

Aku mulai menantikan dengan waswas dan hati berdebar tapi sangat menginginkannya juga, aku sangat menyukai disaat saat seperti ini dimana aku rasakan sebuah penis yang besar keras dan panjang akan menyemprotkan sperma di dalam Vaginaku, penisnya sudah mulai berdenyut dengan hebat,dengan denyutan penisnya itu pun aku juga mulai merasakan hal yang tak akan pernah kurasakan di di dalam hidupku, bahwa nafsu birahiku terpuaskan oleh anak kandung ku sendiri, Suatu sensasi yang memang sangat luar biasa, sepertinya aku juga akan mengalami oragasme. Sengaja aku tahan oragasme ku agar Aku dan Robbie dapat bersama menikmati Nikmatnya Suatu dosa hubungan sedarah antara ibu kandung dengan anak kandungnya. Robbie memiliki Penis dengan batang dan kepala yang cukup besar, saat dia melakukan hujaman yang kali ini cukup terasa keras bagiku, tiba-tiba Robbie diam mematung seperti membeku, badannya bergetar menahan suatu kenikmatan yang selama ini dia impi-impikan, Aku rasakan Penisnya seperti terkunci tertelan sangat dalam di vaginaku dengan kepala Penis berada jauh di dalam rahimku, aku melihat wajahnya yang tampan dan kedewasaan mulai tergambar dari raut wajahnya yang mungkin nanti menjadi Ayah dari anak yang akan ku kandung ini. Akhirnya hal yang kutakutkan terjadi aku terlambat mencabut batang penisnya dari dalam vaginaku, tapi disatu sisi aku merasakan sensasi nakal yang menjalar di tubuhku yang ingin merasakan rasanya jika dibuahi oleh anak kandung ku sendiri, Robbie melenguh dan mendesah hebat Penisnya menyemburkan sperma di Rahimku tempat dimana aku mengandungnya, semburannya berkali kali sangat kencang terasa, dan saat itu pula aku merasakan Vaginaku juga berdenyut keras dan aku menjerit histeris karena merasakan Orgasme yang selama ini belum pernah aku rasakan, karena sensasi persetubuhan sedarah ini, aku merasa seperti terbebas terbang, aku orgasme sangat panjang dan lama seiring dengan keluarnya sperma Robbie yang menyembur di dalam Vaginaku. Terasa hangat basah, gemericik, sedikit lengket pada selangkangan kami yang menempel terkunci satu sama lain, dengan aku menyilangkan kakiku pada pinggang Robbie.

“ Mam, aku mengeluarkannya di dalam...maaf”, ucapnya dengan nada datar, takut aku hamil, tapi dia puas tanpa ada penyesalan. “Ya Tuhan, Robbie... Kamu ini benar-benar nakal. Tapi mau gimana lagi, kan sudah keluar?”, itu yang aku katakan kepadanya. Kami mengalami klimax persetubuhan sedarah yang sangat indah, terdengar tabu tapi faktanya indah dan luar biasa.

Spermanya perlahan lahan mengalir keluar dari dalam Vagina ku, bercampur dengan cairan kewanitaan ku, spermanya sangat banyak, dan aku yakin dia sehat dan pasti spermanya juga sehat. Hamilkah diriku? Apa yang terjadi, menjadikan kami ketagihan akan hubungan rahasia yang sangat penuh dengan dosa, aku akan menjalani hubungan ini dengan caraku, dan aku tidak akan pernah menyerah.

Memang seperti yang aku katakan di awal cerita ini, perbuatan ini pasti tidak bisa di maafkan, apa yang kami lakukan pasti akan ada kosekwensinya, aku tahu itu dan aku mengerti. Tapi disaat Robbie ada disebelahku, dan waktu kami melakukan Dooggie style, atau jika aku berada diatasnya layaknya wanita penunggang kuda, atau di manapun kami menumpahkan cairan kenikmatan itu, semuanya mengandung resiko yang sangat tinggi, ketahuan oleh suami atau orang lain tentang hubungan sedarah kami, atau aku hamil. Tapi aku, kami berusaha secantik mungkin agar semua itu tertutup dengan rapih, dan sepintar mungkin agar aku tidak mengandung benih dari anak ku sendiri. Tapi sayangnya tetap saja aku berhasil jebol juga. Aku benar-benar menjadi hamil dari benih anakku sendiri

Singkat kata,” Waktu aku tahu Anak lakiku masuk kedalam kamar mandi, untuk mengintip Mamanya yang sedang Mandi, dan menawarkan suatu permainan yang beresiko tinggi, AKU TIDAK BISA MENOLAKNYA”!!!

Semalam bersama mama


Jumat siang, sepulang dari kuliah, saya diajak ibu kepesta perkawinan keluarga di luar kota, yang jaraknya kurang lebih 200 km atau 4 jam perjalanan mobil kalau tidak lagi macet melewati Puncak. Pesta keluarga rencananya dilangsungkan sebentar Malam jam 19.00. sampai selesai. dan diperkirakan jam 22.00 akan selesai dan langsung pulang lagi ke rumah di Jakarta. Sesampai di tempat Pesta.. para sahabat dan keluarga banyak yang mengagumi kecantikan Ibu. Malah ada yang bercanda bahwa pasangan Kami (saya dan Ibu Kandungku) adalah ibarat pasangan suami isteri yang sangat serasi. Pokoknya diantara Keluarga dan sahabat , kami lah yang menjadi fokus pandang . Lebih wow… dibandingkan mereka yang sementara duduk dipelaminan malam itu.

Memang Kecantikan ibu tidak ada duannya, melebihi kecantikan tamu2 sebayanya yang hadir malah masih lebih cantik dan seksi dibandingkan Ibu-Ibu 10 tahun lebih muda dari Ibu, walau pun sebenarnya Ibuku sudah terbilang umur 40 tahun. Ibu selalu menjaga kesehatan dan tidak pernah melupakan senam, Kalau dirumah selalu merawat tubuhnya, agar tetap fit , cantik dan seksi.

Tepat jam 22.00 , kami pamitan untuk pulang, maklum rumah sangatlah jauh dan bila tidak ada halangan mungkin sampainya dirumah sudah tengah malam atau jam 02 Pagi….. tepatnya setengah jam kemudian pk 22.30, kami telah meninggalkan tempat pesta dan saya langsung menancap mobil untuk pulang. dalam perjalanan tiba ibu mengingatkanku.. hati2 .. jangan terlalu kencang .. sayang !!!, jalannya sangat licin”, betul kata Mama, karena hujan yang turun mulai deras, mana lagi mendekati puncak semakin berkabut. Beberapa saat kemudian, Tiba2 stir mobil kurasakan sangat berat, ” Aduh Mama…, Ban Mobilnya Kempes…”, secara refleks Ibuku menjawabnya ” Cepat pinggirkan mobil kehalaman hotel terdekat … ntar nggak keburu … bisa —bisa kita ngadat di jalan .. mana hujan deras lagi”… iya Mam “jawabku singkat … sambil berbelok memasuki salah satu hotel berbintang yang ada di Kaki Lereng …Puncak.

Sebelum kami keluar dari mobil, Ibuku berkata, .. ” Sayang, kalau Ban Mobilnya Kempes dan gak bisa ditolong lagi…, kita harus menginap di Hotel ini, Besok pagi aja perjalanan kita lanjutkan”, dan memang keadaan yang mengharuskan kami untuk singgah bermalam…di hotel berdua dengan mama

Kami berdua dijemput dan diantar ke Resepsionis… , dan untuk mengurangi kecurigaan ,Ibuku langsung mencatat identitas kami berdua sebagai suami isteri , Ibu mengerling kepadaku.. sambil mengeluarkan Credite Cardnya untuk digesek sebagai jaminan nginap hotel 1 Malam.

Setiba di Kamar, .. mama langsung tersenyum manis dan berkata..” Sayang… jangan macam2 yah!!!, walaupun ditempat pesta tadi malam , mereka bercanda katakan kita seperti pasangan suami isteri dan di resepsionis , mama juga mengatakan kita suami isteri , tetapi kamu tetap anak mama.. nggak boleh macam2 sama mama. yah !! .. spontan saya menjawab ” OK!! Mam.., sayang yang cantik ” . Entah dari mana datangnya keberanianku untuk merayu Ibuku, walaupun itu saya sampaikan secara bercanda … tetapi kalau dipikir, wah bisa berabe juga .. sekamar di Hotel dengan Ibu Kandung yang cantik dan seksi.. pasti dugaan orang kalau bukan Suami Isteri yang kemalaman pastilah peselingku yang kaya , dan yang jelas pastilah mereka memanfaatkan waktu yang sangat panjang untuk bersetubuh.., atau bersanggamah atau ngentot.. sepuas-puasnya, tidak ada dugaan ketiganya…

Pikir2 praduga orang, tak terasa Yuniorku menegang..makin kencang .. kayaknya setan setan berahi mulai menguasai fikiranku…membuatku hampir salah tingkah…, tiba2 Ibuku berkata ” Mama Mau Mandi dulu yah.., tolong bukakan korset mama”, wowww.. setan penggoda makin kuat, ” iya.. iya.. Mam” sahutku agak bergetar, sambil membuka korset Mama dan entah kenapa, saya mencoba melirik ke buah dadanya dari samping belakang, dalam hatiku berkata, walaupun mama tidak menggunakan korset tetapi cetakan tubuhnya sangat sempurna, Pinggang yang ramping bak pinggang anak perawan yang diikuti dengan pinggul lebar yang sangat serasi dengan tonjolan buah dada yang masih tegak menantang kedepan, ditambah lagi kulit Mama putih tak bernoda sangat halus dan harum…, Pastilah semua laki-laki ingin menikmati keindahan dan kesempurnaan alam yang ada pada Mama…tanpa kecuali termasuk saya, anak kandungnya….

Sewaktu mama di kamar mandi..terdengar sayup sayup riak air di Bak Mandi yang bersentuhan dengan tubuh montok mama yang telanjang bulat, tak terasa tanganku mulai memegan si yunior yang mulai tidak dapat dikendalikan dan tiba2 terdengar teriakan perlahan Mama ” sayang… kamu juga mandi ya !! airnya Nyaman dan hangat “ jawabku ” ntar Mam ” , ” Iya donk , masa sih mandi bareng ?” lalu senyap…, pikirku.. apa ini sinyal plus dari mama???, atau hanya karena canda Mama ???, tak terasa.. genggaman pada Yuniorku makin kencang, “Sabar yah yunior.. kamu ntar saya masukan di memeknya mama ” gumanku dengan fikiran mulai kurang ajar dan kotor…

Selang beberapa saat , Mama keluar dari kamar mandi, dan tubuh mama hanya dililit ketat oleh selembar handuk sebatas setengah buah dada mama ke bawah sampai sejengkal diatas lutut, Karena suhu kamar sangat sejuk , sambil berlari kecil.. Mama menuju spring bed langsung masuk dalam selimut yang tebal, lalu mama berkata ” Gantian mandinya… mama mau tidur duluan “, dan saya langsung menjawabnya ” gak jadi mandi Mam.., pagi aja sekalian…” jawabku singkat, karena jawaban ini sudah saya persiapkan agar cepat2 bisa tidur alias lebih cepat tidur di samping Mamaku, ” Terserah kamu aja… tapi kalau bau jangan baring disamping Mama ya??”

Saya lewatkan kira-kira 10 menit setelah nafas mama seperti mulai teratur alias tidur… perlahan lahan saya naik ke pembaringan disamping kiri mama, maksud saya untuk ikut juga masuk dibalik selimut, saya tarik dan simak sedikit selimut yang satu-satunya akan kami pakai berdua, tetapi tiba2 mama mengeliat mungkin terasa hembusan dingin akibat selimut yang menutupi tubuhnya tersingkap sedikit.., tampak mama tidur dibawah selimut tanpa mengenakan sehelai kain alias telanjang bulat ,karena kami memang tidak mempersiapkan pakaian tidur , mama tidur miring membelakang disebelah kanan, perlahan saya masuk dibalik selimut disamping kiri mama yang telanjang , dan selang beberapa saat kemudian, mama membalikan tubuhnya dan wajahnya hampir menyentuh wajahku, kutatap matanya yang tertutup indah, bibir yang tipis merekah menantang, hidung kecil yang mancung.., kuberanikan dan kucolek perlahan hidung mama, tetapi tak ada reaksi, kulanjutkan untuk menarik kebawah bibir mama yang tipis, agar tampak gigi yang putih rapi berjajar, juga tak ada reaksi dari mama, dan akhirnya dengan berdebar-debar kurapatkan mulutku dan kukecup bibir mama, mulai desak nafas mama sedikit terganggu, mungkin terhalang dengan hidungku akhirnya mama membuka sedikit mulutnya, tanpa kuberi kesempatan menutupnya , kusedot lidahnya, dan rupanya mamaku dalam tidurnya juga membalas ciumanku…, dan selanjutnya kualitas keberanianku kutambah dengan mulai memeluk dan melingkari badan mama dengan lenganku, reaksipun datang dengan makin merapatnya tubuh mama yang mungil dan telanjang ini kedadaku, paha mama mulai menyerang dan menyentuh yuniorku yang berubah menjadi Yunior yang kenyal dan berdiameter sebesar pergelangan tangan mama, pelukan mama mulai mengencang, mungkin bermaksud menarik obyek yang lebih hangat yang ada pada badanku, keadaan ini membuatku makin kesurupan, tangan kiriku mulai mengerayangi pinggul mama, turun kebawah bagian bokongnya, terus turun dan berputar kedepan lebih kebawah lagi, dan akhirnya sampai kebulu pubis mama yang sangat halus, kutelusuri bibir vagina mama dan akhirnya jari telunjukku mengelitik klitorisnya…,Mama mulai berekasi , kedua paha mama menjepit , tangan kanannya mencakar punggungku dengan kuku mama yang tajam, mungkin ini adalah refleks akibat sesuatu yang memasuki vaginanya, hanya mama yang tahu, tubuh mama saya dorong agar sedikit terlentang dan mulailah saya menindih setengah tubuh mama terutama buah dada kiri mama dengan tubuhku, paha kiri mama dengan paha kiriku, dan tangan kananku mulai saya aktifkan dari belakang leher mama untuk mengerayangi buah dada kanan mama, bibir mama dan bibirku membentuk satu ruang dan kedua lidah kami saling menggelitik, nafas mama makin memburu , saya makin kesurupan dan menyerang , akibat makin kerasnya remasan tangan kananku ditetek kanan mama dan jari telunjuk kiriku yang mengelitik klitoris mama yang mulai memanas dan mengeluarkan lendir membasahi vagina mama, akhirnya mama tersentak ” Hey… kamu ngapain Mama…ini gak boleh Ar… !!, “kata Mama kaget dan marah, jawabku sambil gemetar dan bernafsu campur aduk, ” saya tidak bisa tidur mam…, apalagi seranjang dengan mama yang lagi telanjang bulat” ” ohw.. begitu yach … mama terdiam agak lama lalu membalik membelakangiku , sambungnya “tetapi Jangan kasar gitu donk !!” lalu Mama terdiam lagi…namun napasnya masih memburu dan bergetar , inilah kata-kata mama yang kurang saya mengerti , apakah perbuatan saya tadi dibenarkan tetapi nggak boleh kasar atau ??? apa yach…. Saya tidak berani lagi ngomong macam2.. dan jawabku singkat “Maaf Mama” sambil menatap punggung mama yang masih agak bergetar, entah beberapa lama kami terdiam berdua tiba2 Mama Membalik sambil berkata ..”kalau kamu pingin bercinta dengan mama harus lembut dan perlahan-lahan aja.. kan masih banyak waktu”, sambungnya lagi “Kamu Anak Nakal boleh peluk dan mencium Mama , pokoknya tubuh mama malam ini kuserahkan semuanya kepadamu kecuali yang satu ini, yaitu Yuniormu yang gede ini dilarang keras memasuki vaginanya mama”, sambil mama memegang Yuniorku dan menarik dan menyapu kepermukaan vaginannya. ” tapi justru cuma yang satu ini milik mama yang paling nikmat ” selaku protes, dan mulai berani , “siapa yang bilang? Dasar nakal” , Mama mulai menindih tubuhku dan menciumku, Kubalas ciuman Mama , wow… sangat nikmat dibandingkan waktu saya mencium mama dalam keadaan tertidur, tetapi kali ini dengan sadar sesadarnya, justru mama memulai merangsang, sambil melemparkan selimut kelantai, jadinya kami betul – betul telanjang bulat di udara kamar yang sejuk diatas ranjang .
Kami berciuman dan berpelukan telanjang bulat dengan Mama , sangat lembut dan perlahan-lahan, rupanya mama juga sangat menikmatinya, Napas Kami mulai memburu , terkadang Mama mengeram dan menggeliat apabila kusentuh dan kupelintir halus putting teteknya .. Auhh!!, jangan disitu Ar..!!, Mama nggak tahan… sayannngggg, keluh Mama panjang…, “tetapi enak kan Mam!!” Aiii!!!…Mama makin kesurupan..dan berupaya meraup Yuniorku..yang makin kaku dan membesar Maksimal…
Sewaktu Mama menggenggam Yuniorku ,Tubuh Mama kudorong menjadi terlentang dan dan kutindih dengan badanku ..Mulut Kami makin bersatu , kupeluk erat tubuh Mama yang mungil , dan Yuniorku kuarahkan ke Vagina Mama, tetapi Mama tetap menggenggam yuniorku, hanya menggosok-gosokan kepala yuniorku ke Mulut Vaginanya yang juga mulai berlendir. Terkadang Kepalanya sudah masuk setengah tetapi Mama , mengeluarkan nya lagi… Karena saya tidak tahan lagi perlakuan Mama seperti ini…Kutarik Tangan Mama yang menggenggam yuniorku agar terlepas..rupanya usahaku ini cukup berhasil dan dengan cepat kuselipkan kedalam Vagina Mama, Terasa Vaginanya sangat licin, menggesek dan berlendir serta berdenyut menjepit…Aowww…!!! Teriak Mama, Kugocok Vagina Mama dan mama mengimbanginya dengan goyangan pinggulnya yang tak karuan… tetapi baru 2-3 kali gocokan, tiba2 Mama dengan kekuatan penuh… menaikan bokongnya tinggi-tinggi dan menggessernya jauh kesamping akhirnya yuniorku terlepas dari vaginannya ..clukppp …”Aiii!!!…kenapa dikeluarin Mam…”, “Nggak… boleh sayang..”.

Tiba tiba Mama mulai bangun kemudian membawa selangkangnya ke wajahku persis mulut vaginanya berhadapan dengan mulutku , mama mulai menunduk dan meraih Yuniorku dan memasukan ke mulutnya dan melumutnya , terkadang Yuniorku digigitnya perlahan2 sambil bergantian dengan bibir yang lembut dan hangat, yang paling mengasikan kalau kepala Yuniorku digelitik dengan lidah mama, begitu juga klitoris mama , saya gelitik dengan ujung lidahku, terkadang mama hilang kontrol , mendengus menambah gocokan dan lilitan lidahnya di kepala Yuniorku, terkadang sangkin bernafsunya juga mama , tangannya ikut pula meramas biji pelirku… dan semuanya berlangsung saling kerja sama membantu masing masing mencapai puncak birahi yang membuat lupa segala-galanya bahwa berbuatan bersanggamah dengan ibu kandung yang orang katakan sangat tabu, tetapi justru sangat mengasikkankan dan jauh lebih nikmat dengan memek manapun….di dunia ini.

Mama makin gila mengocok Yuniorku, dan akhirnya , saya tak tahan lagi…cepat donk mama… masukkin kedalam memek mama.., aowww…cret…. cret.. sabar sayang…kata mama kesurupan mempermainkan air maniku sambil menggosokkannya di-kedua buah dadanya…

Mama juga tidak tahan sayang….,Tidak berapa lama kemudian mama berganti posisi, duduk persis diatas selangkangku persis posisi Yuniorku berhadapan langsung dengan vagina mama, mama menuntunnya dengan sangat gampang memasuki liang sanggamanya dan menjepitnya…wow…wow…. suatu kenikmatan yang sangat sulit dilukiskan dengan kata2, tidak ada lagi kenikmatan yang melebihi kenikmatan sewaktu Yuniorku dijepit dan dikocok oleh vagina mama, pinggul mama naik turun menyebabkan Yuniorku masuk makin kedalam dasar vagina mama,…, saya tidak ingin kenikmatan ini berlangsung cepat, saya turun dari pembaringan, menggendong mama sambil masih melekatkan Yuniorku kedalam vagina mama, kugoyang2 tubuh mama yang mungil, mama makin kesurupan…dan juga merasakan kenikmatan yang tiada tarnya…mata mama mulai terpejam… sambil berdengus ach–ach… mama tidak tahan lagi, minta diturunkan untuk mengakhiri permainan ini…” sayang… turunkan mama..tancapkan Yuniormu sayang lebih dalam..”, kubaringkan tubuh mama, kuperberat tekanan Yuniorku masuk ke vagina mama, mama menjepit makin kencang..vagina mama makin berdenyut2… dan akhirnya pelukan kami berdua makin kencang, mama seakan akan menggantung ditubuhku lekat dan sangat erat …cret–cret… dan rintihan kenikmatan mama bercampur aduk dangan geramanku… semuanya berakhir membawa kami berdua ke langit ketujuh…

Setelah ledakan kenikmatan birahi bersanggamah dengan mama yang menghamburkan air mani kami berdua tercecer kemana-mana membuat kami berpelukan lemas dan penuh kebahagian… dan akhirnya jam didinding hotel telah menunjukan pukul 03 pagi. yang akhirnya kami berdua tertidur kelelahan dalam keadaan telanjang bulat berpelukan bagai bayi yang baru lahir…
Keesokan harinya Mama dan Yuniorku keduluan terjaga… , Mama sambil memelukku ,menjepit hidungku sehingga saya sulit bernafas dan akhirnya saya juga terbangun…, Selamat Pagi Anak Nakal…sambut Mama sambil tersenyum manis…, tidak kusiasiakan Kesempatan ini , kutarik tubuh Mama persis menindih tubuhku, Kuraih wajah Mama dan kulemut bibirnya yang tipis…, Mama pun bereaksi menyambut ..malah dalam posisi tubuhnya menindih tubuhku… berusaha memasukan Yuniorku ke Vaginanya…
Nampaknya Napsu Birahi Mama makin menjadi jadi setelah bersanggama , tidur istirahat semalam .. kusambut kebinalan Mama dan tiba –tiba Mama menghentikan gerakannya sambil berkata.. Ar, Kamu belajar dari mana kurang ajar setubuhi Mama . sebelum saya menjawab , Mama mengencangkan otot Vaginanya..membuat yuniorku makin kelelap..“Kan Mama yang ajarin…” jawabku singkat sambil membalikan tubuh Mama menjadi tertelungkup.., kuangkat pinggul Mama sedikit meninggi dan kuarahkan yuniorku ke Vagina Mama dari belakang.. Kembali terdengar geraman Mama.. “Jangan gini Ar..oww!!, tetapi goyangan Mama justru mendukung dan menyambut .. Kugocok Vagina Mama dari belakang…agar tidak terlepas kedua tanganku menggenggam pinggulnya..Mama makin menggelapar.., dan kocokanku makin kencang …, tubuh Mama terangkat menyebabkan buah dadanya bergelantungan bergoyang seirama tumbukan Yuniorku ke Vaginanya, tiba-tiba mama meraih kedua tanganku dan membawa ke gundukan buah dadanya…dan Mama mengeram histeris tetapi suaranya teredam karena Wajah mama dibenamkan dikasur..Dalam beberapa saat kemudian , kami berdua mengambil posisi duduk berhadapan..tepanya Mama duduk diatas selangkanganku..dengan Vaginanya masih tetap menjepit yuniorku…, Mama menaik-turunkan bokongnya sambil mendengus dan saya menjilat leher Mama sambil meremas kedua buah dadanya…. Dan akhirnya kami mengalami orgasme dalam posisi duduk ..
Kami duduk terdiam , berpelukan , saling menatap , mama tersenyum manis… , sambil kukecup bibir mama , kubaringkan tubuh Mama perlahan-lahan… dengan tidak melepas yuniorku didalam vagina Mama dan pelukanku… “ Mama..!!, ada satu permintaan Anakmu yang Nakal ini”, “apa sayang !!” sela mama, “ Aku sayang Mama dan aku sangat mencintai Mama, …Maukah Mama menjadi isteriku selama-lamanya??” Gila Kamu Ar.. Mana Ada Anak memperisteri Ibu Kandungnya” jawab Mama sambil tersenyum “, “tetapi kamu boleh setubuhi Mama kapan kamu mau, asalkan Ayahmu tidak tau” sambungnya..
Selama hampir sejam, kami berdua masih berbaring dan bercinta dengan keadaan telanjang bulat, saya berbaring terlentang sambil membelai rambut Mama yang acak2akan, Mama berbaring tertelungkup dengan kepala bersandar didadaku, wajahnya menengadah keatas sangat dekat dengan wajahku, sehingga nafas kami berdua saling menyatu, tangan kiriku membelai tubuh Mama yang mungil, sampai kepinggang , terkadang kuelus buluh pubis Mama yang halus dan pahanya yang sangat Mulus, Mamapun tidak henti2nya mengelus yuniorku, seakan akan tidak rela apabila benda yang bulat panjang ini yang telah membuatnya menjadi setan histeris akan mengkerut. Cerita kami kami berdua dipenuhi dengan kata-kata cinta birahi dan model atau gaya bersetubuh, dan akhirnya Mama meminta ”Gendong Mama ke Kamar Mandi Sayang”
Dikamar Mandi , tubuh kami berdua saling melekat terus …, Mama tidak pernah melepaskan ciumannya, sewaktu Mandipun kami bersetubuh berdiri, suatu kenikmatan tersendiri yang mama belum pernah merasakannya yaitu Badan kami lumuri sabun cair sehingga sangat licin, Mama mencapai orgasme sewaktu saya menggendong dan menyetubuhinya sambil berdiri..tawa cekikan dan teriakan kenikmatan serta kebahagian birahi mama mengaung dikamar mandi. Dibak Mandi yang sempitpun Kami Mandi berdua melanjutkan babak berikut..dan akhirnya Mama pun orgasme kedua kalinya di Bak Mandi. Didalam air yang dipenuhi busa sabun dan birahi.
Sangking Gilanya Kami berdua, Kami keluar dari kamar mandi masih dalam keadaan telanjang bulat dan berpelukan, berciuman, kemudian aku duduk disopa, mama aku dudukan diatas selangkangku…, Yuniorku yang tak kunjung mengalah tetap berkubang di Vagina Mama.. sampai akhirnya Jam 11 lewat 30 menit..kami bersiap-siap check out dari hotel.
Sewaktu kami hendak mengambil kunci Mobil diresepsionis, Kami disapa “Selamat Siang , terima kasih atas kunjungannya dan semoga Bapak dan Ibu menikmati Kebahagian di Hotel Kami”, Mama hanya tersenyum dan berjalan menggantung di Bahuku menuju ke Mobil Kami yang telah disiapkan.

Ibuku nafsu pertamaku


Aku dikhitan ketika aku menginjak umur tiga belas tahun dan lanjut ke SLTP. Setelah rasa perih akibat dikhitan aku mendapatkan imbalannya, yakni burungku semakin gagah dan membesar. Aku melanjutkan sekolah ke kota yang jauhnya kira-kira dua belas kilometer dari rumahku. Pergaulanku semakin luas dengan bermacam-macam teman dari daerah maupun di sekitar kota itu. Aku mulai mendapati hal-hal yang baru. Rata-rata teman sebayaku adalah anak-anak yang baru menginjak dewasa. Aku bergaul dengan anak-anak yang di kalangan sekolah dikenal sebagai kumpulan anak bandel. Obrolan mereka sering sekali berbau mesum dan aku semakin senang sekali dengan mereka karena ketika SD aku tidak pernah sedikitpun berbicara tentang hal-hal demikian dengan teman-temanku. Saat itu aku juga sudah mulai mengenal onani untuk memuaskan nafsuku kalau terpaksa tidak ada pelampiasan. Saat itu cairan spermaku juga mulai banyak dan semakin nikmat dan menggelora gairah seksku.
Mereka sering mengobrolkan anak-anak perempuan sebaya maupun kakak kelas yang cantik dan badan mereka sudah mulai tumbuh dewasa. Mereka sering juga mengintip siswa-siswa perempuan tersebut sehabis olahraga di ruang ganti maupun di toilet. Aku tidaklah begitu tertarik dengan bahan obrolan mereka tersebut. Namun ketika mereka mulai mengobrolkan guru-guru kami yang cantik dan bahenol aku mulai tertarik. Kadang kami selalu membayangkan hal-hal jorok tentang guru perempuan kami. Aku selalu membahas bu Wati guru PPKN kami. Bu wati badannya tinggi seksi dan berpantat semok kesukaanku. Aku selalu mengintip celana dalamnya dari bawah meja sewaktu ia mengajar.
Pada waktu itu sudah beberapa bulan aku belajar di sekolah yang baru. Aku sudah mulai berani membolos sekolah. Ketika itu setelah istirahat aku dan teman-temanku berencana membolos pelajaran dan segera mengambil tas dan buku kami di kelas untuk selanjutnya bergegas melompat keluar pagar sekolah. Kami berniat demikian karena seorang teman kami yang bernama Rian tinggal tidak jauh dari sekolahan mengajak kami menonton film porno di rumahnya. Aku yang sama sekali belum pernah menonton orang berhubungan badan, langsung saja tertarik dan ikut ke rumahnya. Kami sengaja membolos karena pada saat jam-jam pelajaran rumah Rian sepi karena kedua orangtuanya PNS dan pulang kerjanya sama dengan kami yakni jam setengah dua siang. Beruntung Rian anak tunggal, jadi tidak ada yang akan mengusik kami menonton sampai jam dua. Jam sembilan pagi kami keluar membolos dan kemudian di rumah Rian kami langsung saja menonton film porno itu. Aku sangat terperangah melihat adegan-adegan seks di film itu. Aku suka sekali karena yang main adalah bule-bule yang berbadan bongsor. Burung di dalam celanaku tidak pernah kendur, tegak menantang sejak dari pas pertama film diputar. Sambil menonton dan berimajinasi mereka mengobrolkan hal mesum tentang cewek-cewek di sekolah. Berbeda dengan mereka, dalam otakku hanya terbayang pikiran untuk segera bersetubuh dengan ibuku. Aku sudah tidak tahan lagi mengeluarkan sperma yang tertahan ini. Aku ijin Rian untuk ke kamar mandi. Kamar menuju ke kamar mandi yang ada di belakang rumah dan saat melewati ruang tamu aku melihat ada foto ibu dan bapak Rian. Ibunya ternyata cantik dan terawat, bersih dan berseragam PNS rapi. Sepintas ibunya mirip dengan artis Lidya Kandou dengan perawakan yang hampir sama juga tinggi dan posturnya. Wah kalau ibuku di rumah tidak pernah dandan seperti itu, hanya biasa saja namun aku juga tidak tahu kenapa aku selalu bernafsu dengan dirinya. Aku mulai berpikiran jorok tentang ibu Rian dan tidak sabar ingin melihatnya langsung. Niat aku ke kamar mandi bukanlah untuk kencing tetapi untuk beronani. Sesampai di kamar mandi aku mendapati ada banyak tumpukan cucian kotor. Aku langsung berpikiran kotor mencari-cari kali aja ada celana dalam kotor ibu Rian. Setelah kucari-cari ternyata ada dua celana dalam putih bunga-bunga milik ibu Rian dan aku sangat gembira sekali. Aku ciumi bau celana dalam itu, ada sedikit bau-bau pesing yang semakin membuat aku bernafsu. Aku bayangkan wajah ibu Rian yang baru saja aku lihat di foto sambil mengocok kontolku dan berfantasi menyetubuhi ibu cantik itu. Tidak berapa lama cairan spermaku sudah diujung dan segera kutempelka celana dalam itu ke ujung kontolku sambil membayangkan spermaku kumuncratkan di vagina ibunya Rian. Tak berapa lama spermaku keluar juga banjir membasahi celana dalam itu. Aku sangat puas sekali dan segera keluar toilet sambil menyelipkan celana dalam yang sudah basah itu jauh ke tengah tumpukan cucian agar tidak ketahuan.
Setelah selesai menonton aku segera pulang ke rumah. Di rumah bayanganku tentang wanita di film itu dan bayangan ingin segera bertemu dengan ibu Rian berkecamuk di pikiranku. Semakin aku bayangkan semakin aku bernafsu lagi dan ujung-ujungnya pikiran untuk segera menyetubuhi ibuku seperti di film porno tadi semakin menjadi. Lagian rumah juga semakin sepi karena saat itu aku hanya tinggal bersama dengan ibu saja. Kakakku sudah bekerja merantau ke kalimantan selepas lulus dari SMA. Ayahku juga sering mendapat pekerjaan berbulan-bulan di lain kota sehingga dia jarang sekali pulang ke rumah. Pikiranku berkecamuk sekali memikirkan cara apa yang harus kugunakan agar bisa bersetubuh dengan ibuku. Terkadang sering terbesit pikiran untuk memukul ibuku dari belakang dan setelah membuatnya pingsan aku bisa menyetubuhinya. Namun dari dalam hati aku juga merasa khawatir karena takut salah pukul dan membuat ibuku mengalami hal terburuk dan fatal. Hal yang menyulikanku lagi ketika itu setelah dikhitan aku dibuatkan kamar sendiri dan tidak lagi tidur bersama dengan ibuku. Aku juga takut untuk menyusul ibuku ke kamar walaupun demi untuk bisa memuaskan nafsuku dengan pantatnya seperti ketika aku masih SD.
Aku tidak mau dan malu untuk curhat tentang hal ini dengan teman-temanku karena aku akan melakukannya dengan ibuku sendiri. Saat aku bertanya dengan temanku tentang bagaimana cara untuk menyetubuhi orang dan tidak ketahuan, temanku memberi ide dengan memberikan obat tidur. Aku sempat gembira sekali mendengar itu namun hal itu hanya sia-sia belaka karena tidaklah mudah untuk mendapatkan obat tidur apalagi bagi kami yang masih seumuran belum dewasa. Aku selalu pulang dengan kecewa namun aku juga masih sering-sering mengintip ibuku mandi dan kemudian beronani dengan celana dalamnya. Aku melakukan itu selama bertahun-tahun dan berusaha melupakan niatku yang telah terpendam bertahun-tahun itu. Aku juga sudah sempat bertemu dengan ibu Rian yang memberikan fantasi baru terhadapku. Aku mulai sering ijin untuk tinggal di rumah Rian dan mencari-cari kesempatan untuk bisa mengintip bagian tubuh ibu Rian. Pikiran untuk menyetubuhi ibu Rianpun muncul persis seperti pikiranku terhadap ibuku. Namun hal tersebut semakin membuatku tambah kecewa saja karena hal tersebut lebih mustahil.
Sewaktu aku berada di rumah aku mendengar berita kalau tetangga kami keracunan memakan tumbuhan yang namanya aku rahasiakan. Tetanggaku itu kemudian dibawa ke rumah sakit dan setelah beberapa hari aku dan ibuku menjenguknya di rumah sakit. Ternyata dia hanya tidak sadarkan diri untuk beberapa jam saja dan katanya itu terjadi setelah memakan tumbuhan itu. Sepintas langsung terbersit pikiran kotor diotakku. Aku ingin sekali mencari tumbuhan itu dan mencampurnya ke dalam makanan ibuku. Pikirku itu tidaklah terlalu berbahaya jika hanya sedikit saja. Kebetulan setelah sempat beberapa bulan ayahku berada di rumah, saat itu ayahku telah pergi lagi ke lain kota dan jarang pulang karena ada proyek besar di semarang.
Esok harinya setelah pulang sekolah aku langsung pergi ke daerah perladangan untuk memburu tumbuhan itu. Tidak sia-sia, setelah beberapa saat akhirnya aku menemukannya dan bergegas pulang. Ketika itu ibu sudah menginjak petang dan ibuku memasak sayur sop dan itu kebetulan sekali karena nantinya aku bisa mencampur tumbuhan itu ke sayur. Aku segera ke belakang dan menumbuk tanaman itu untuk kuambil sarinya. Saat kami makan berdua di depan televisi aku pura-pura meminta ibuku membuatkanku sambal soalnya sayur sop kurang lengkap tanpa sambal. Setelah sedikit merengek akhirnya ibuku menaruh piringnya yang baru sedikit dimakan di meja depan televisi dan menuju ke dapur membuatkanku sambal. Aku langsung saja mencampurkan sedikit saripati tumbuhan itu ke dalam piring nasi dan sup ibuku. Setelah beberapa menit ibu kembali dengan sambal dan kami melanjutkan makan. Ibuku tidak merasa aneh dengan rasanya, mungkin saripati tumbuhan itu tidak ada rasanya karena aku juga belum pernah merasakannya, atau mungkin sudah tidak berasa karena sudah bercampur dengan nasi dan lauknya.
Tak berapa lama kemudian ibuku berkata kalau ia merasa pusing. Ia segera menuju ke tempat tidur dan setelah aku tunggu beberapa menit ternyata tidak ada suara apapun. Aku pura-pura memanggil ibu namun tidak ada jawaban. Aku berjingkrak kegirangan karena itu tandanya ibuku sudah tidak sadarkan diri. Aku menghampiri ibuku dan berpura-pura memanggil ibuku sambil menyentuh pipinya. Ternyata ia benar-benar sudah tidak sadarkan diri dan langsung saja aku membuka semua pakaianku dan bertelanjang bulat. Aku matikan seluruh lampu rumah dan hanya menghidupkan lampu meja di sebelah ranjang. Hatiku berdebar keras kegirangan sambil melucuti pakaian yang dikenakan ibuku. Setiap momen melucuti pakaian itu aku nikmati dengan benar-benar, ada perasaan nikmat khusus yang aku dapatkan. Mula-mula aku cium bibirnya sambil kulepas kancing bajunya beserta kutangnya. Kulihat payudaranya yang besar yang selama ini luput dari perhatianku dan ternyata tidak kalah menariknya dengan pantat yang selama ini memabukkanku. Setelah itu aku pelorotkan rok longgarnya dan untuk pertama kalinya aku pelorotkan dengan penuh nafsu celana dalamnya. Aku ciumi seluruh badan ibuku dari ujung kaki sampai kepala. Aku lebarkan sedikit pahanya dan kulihat vagina dengan rambut yang baru dicukur itu depat di depan mataku. Aku jilati puki ibuku tempat aku lahir dahulu. Ibuku sedikit bergerak dan itu membuatku kaget namun tidak berlanjut lagi, dan itu mungkin dia juga merasa keenakan. Aku tak sabar lagi ingin menancapkan kontolku ini ke pukinya. Dengan pelan-pelan aku masukkan kontolku yang mengacung itu dan agak sedikit susah karena mungkin jarang dipakai lagi dengan ayahku. Aku seperti melayang ke surga setelah bisa masuk ke dalam lubang vaginganya. Semua rasa yang belum pernah kurasakan bercampur menjadi satu. Hangat dan lembut vaginanya semakin membuatku ingin memompanya kencang. Ibuku dengan posisinya yang terlentang hanya terdiam tanpa ekspresi ketika kutindih dari atas, dan semakin kucepatkan gerakan kontolku menjebol pukinya. Kontolku sudah terasa pengin memuncratkan spermanya, dan langsung kucabut saja karena aku ingin menghajar ibuku dengan menindihnya dengan posisi telungkup.
Aku langsung berpindah posisinya dan sedikit mendorong tubuh ibuku agar bisa ke posisi telungkup. Badanku sudah setinggi ibuku meskipun badan ibuku lebih besar. Aku agak sedikit merasa berat mendorongnya, dan ketika sudah berhasil telungkup aku melihat bokong bulat kenyal indah itu persis di depan mataku. Aku semakin bernafsu dan segera menciumi dan menjilati pantat pujaanku sedari kecil itu. Setelah puas mencium dan menjilatinya aku sibak belahan pantatnya yang besar dan ingin sekali melihat lubang anusnya. Gundukan pantat dan anus beserta vaginannya tampak semua.Aku bagaikan terbang melayang dan segera kuarahkan lagi kontolku ke arah pukinya. Aku bergerak naik dan turun dan ketika itu aku mendapatkan sensasi luar biasa dari benturan pantatnya yang kupepet. Gerakanku yang berbenturan dengan pantat besar itu membuat bunyi seperti tepukan dan membuatku sudah tak bisa lagi membendung spermaku. Aku tidak kuat lagi dan kusemburkan seluruh spermaku di dalam lubang vaginanya. Aku merasa sangat puas sekali dan mengerang keenakan tidak peduli jika nantinya ada orang yang mendengar. Aku tidak takut ibu hamil karena didepan rumah kami sudah terpasang simbol KB jadi ibuku pasti sudah KB.
Setelah rasa puas itu aku merasakan perasaan yang aneh dan merasa bersalah. Aku segera membersihkan cairan sperma yang menempel di vagina ibu dengan selimut dan segera memakaikan kembali pakaiannya. Aku berbaring dan sedikit menyesal dengan perbuatanku. Aku juga takut kalau ibuku terjadi apa-apa akibat ramuan itu. Setelah aku tunggu sampai jam sepuluh malam ibuku ternyata sudah sedikit mengigau. Mungkin dia sudah sadar dan ketika aku pegang dirinya dan kutanya ia juga menjawab. Aku merasa tenang dan setelah merasa bersalah semalamaan dan setelah pagi menjelang pikiranku berubah lagi karena melihat pemandangan ibuku yang tidak seperti biasanya, memakai legging tipis sehingga setiap lekukan pantat kaki dan pahanya terlihat jelas. Ibuku memberitahu kalau tadi malam ia merasa pusing dan tiba-tiba saja tertidur lelap sampai pagi. Aku hanya senyum saja dan memberitahu kalau mungkin hanya kecapaian saja. Setelah aku sudah selesai bersiap-siap berangkat sekolah, aku sarapan dengan ibuku. Aku mencampurkan lagi ramuanku itu ke dalam makanannya ketika ia menoleh mengambil kerupuk yang kuminta di belakang badannya.
Tak berapa lama ia merebah di ranjang yang berada di depan televisi. Aku mengurungkan niatku pergi sekolah dan ingin segera menyetubuhi ibuku lagi. Aku segera menutup pintu serta jendela dan setelah memastikan diri ibuku telah tak sadarkan diri, aku langsung menarik dirinya namun tidak menelanjangi total dirinya. Aku tidak melepas semua pakaiannya karena aku terangsang dengan legging ketat ibuku dan ingin dia masih dibalut dengan separuh leggingnya. Aku tengkurapkan tubuhnya dan menarik kakinya keluar ranjang sedangkan bagian atas badannya masih di ranjang. Untung sekali ranjangnya tidak terlalu tinggi jadi dia bisa benar-benar nungging. Setelah itu aku pelorotkan legging ketatnya sampai separuh paha dan ternyata ia tidak memakai celana dalam. Aku ciumi dan jilati seluruh pantat anus dan vaginanya dari belakang. Gilat sekali, baunya pesing dan aroma kecing bercampur. Ibuku belum sempat mandi dan hanya cebok, padahal semalam ada bekas-bekas kering spermaku namun ia tidak sadar juga. Namun aroma itu malah membuatku semakin bernafsu dan segera kuturunkan celanaku terus langsung kuhujumkan kontolku ke dalam memeknya. Seperti anak kanjing mengawini ibu anjingnya. Aku terus mengebor dengan cepat dan kuremas pantatnya yang membuatku seketika memuncratkan lagi seluruh spermaku ke dalam pukinya. Aku sekali lagi merasakan bersalah namun aku tau kalau itu hanya sementara. Setelah beberapa saat aku naiikan lagi badan ibuku dan aku entotin dirinya dengan posisi 69 sampai akhirnya lubang memek ibuku dipenuhi cairan spermaku. Aku segera mengakhiri permainanku dan membersihkan semua sperma yang ada di memek ibu. Jariku aku masukkan ke dalam vaginanya untuk mengeluarkan sperma yang banyak menyelip di dalam. Setelah bersih aku naikkan lagi leggingnya dan menyelimutinya. Setelah ia bangun di siang hari ia kembali bertanya kenapa ia merasa pusing dan tertidur pulas lagi aku hanya menjawab mungkin kurang darah. Ibuku saking polosnya hanya percaya saja dan memberiku duit untuk membelikannya obat penambah darah. Dalam hatiku hanya senyum saja dan segera keluar membelikannya. Aku melakukan hal itu tidaklah sering karena takut akan membawa efek negatif. Aku melakukannya mungkin sekitar enam kali dan setelahnya aku sering pergi ke tempat prostitusi dan mencari wanita yang sudah keibuan. Pikiranku menyetubuhi ibuku sudah tidak terlalu menggangguku karena aku juga sudah puas pernah berhasil menyetubuhinya berkali-kali. Setelah aku masuk SMA aku minta dipindahkan ke kota lain karena takut kalau timbul lagi niatku menyetubuhi ibuku dan hanya dengan jalan memberi ramuan itu yang pasti akan membawa efek negatif ke tubuhnya. Aku membujuk orang tuaku dengan alasan biar aku mandiri dan akan berusaha mencari sambilan kerja agar tidak terlalu membebani mereka.
Aku ingin sekali melakukan hubungan seks dengan ibuku namun dalam kondisi dirinya yang sadar, jadi aku bisa merasakan ekspresi wajahnya ketika sedang bercinta. Namun hal tersebut terasa mustahil di otakku dan lebih baik aku menjauh saja. Setelah sekolah di perantauan aku memasarkan diriku ke tante girang. Aku mendapatkan kepuasan seks dengan petualanganku yang baru dan tentu saja dengan tante-tante yang berganti-ganti di mana setiap aku bercinta dengan mereka, aku selalu membayangkan mereka ibu kandungku. Pekerjaan itu aku lakukan sampai sekarang dan sangat aku nikmati. Aku sudah tidak lagi ingin memberikan ramuan itu ke ibuku semenjak pindah sekolah. Sekarang aku sudah menemukan tante-tante baru yang mengubah hidupku.

Minggu, 06 Mei 2012

Musibah ibuku, kenikmatanku

Namaku adalah Damar dan aku ingin menceritakan pengalaman incestku dengan menggauli ibuku kandungku sendiri. Peristiwa itu terjadi ketika aku kelas dua SMA dan aku tidak dari dulu tidak pernah berpikiran untuk menyetubuhi ibuku. Aku hidup di sebuah desa di daerah Semarang bersama dengan ayahku yang berprofesi sebagai petani sekaligus peternak sapi, serta dengan ibuku yang berprofesi sebagai bidan desa. Aku memiliki seorang kakak perempuan yang sekarang sudah berkeluarga di kota lain, sedangkan adikku masih kelas empat SD dan tinggal bersama dengan kami. Nenekku juga tinggal bersama kami namun ia sudah jompo, sedangkan kakekku sudah meninggal beberapa tahun lalu. Awalnya kami tergolong keluarga yang mampu dan kami hidup bahagia kecukupan. Namun ketika ibuku mencoba berbisnis dengan seseorang, musibah besar menimpa keluarga kami. Ayahku tidak pernah menyetujui ibuku terjun di dunia bisnis dan apalagi itu adalah bisnis besar, karena dengan penghasilan yang didapatpun kami sudah hidup kecukupan. Ibuku tetap tak mempedulikan saran ayahku sampai akhirnya musibah besar menimpanya, yaitu ketika rekan kerjanya menipunya dan melarikan diri ke luar negeri dengan membawa uangnya sebesar lima ratus juta. Bagi orang desa, uang lima ratus juta itu berjumlah luar biasa banyaknya, maklum saja ibuku terus menangis menyesali hal itu. Ibuku sering melamun dengan pandangan kosong sampai akhirnya dia sering teriak-teriak histeris. Ada yang bilang ibuku gila kesurupan ada pula yang bilang ibuku stress. Aku tidak tahu dan ikut juga menanggung beban musibah itu.

Mendandani ibu 2

Ini adalah kisah lanjutan dari kisahku yang pertama. Kisah nyata tentang percintaankku dengan ibu kandungku sendiri. Aku menulis cerita ini sebagai sarana curhatku, karena tidak mungkin aku bisa ceritakan kepada orang yang aku kenal di dunia nyata.
Pada akhir bulan ke-empat, ibuku kembali menengokku. Tapi kali ini datang bersama papa yang kebetulan ada urusan kerjaan ke kota tempatku kuliah. Papa sedang ada lokakarya yang harus dihadiri. Papa dan mama menginap di hotel tempat lokakarya diadakan. Papa menyewa satu kamar tambahan untukku agar aku tidak perlu bolak – balik dari kost ke hotel untuk menemui mereka.
Hari pertama lokakarya dimulai, papa memintaku menemani ibuku jalan – jalan. Lokakarya dimulai dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore. Aku masuk ke kamar ibuku. Kulihat ibuku telah rapi dan siap – siap untuk jalan – jalan bersamaku. Ibu menggunakan pakaian yang biasa digunakannya saat menemani papa jalan – jalan.
“aku nggak mau nemani ibu jalan – jalan kalo ibu mengenakan pakaian seperti itu” protesku melihat ibuku yang sedang duduk di tepi ranjang

“ibu, nggak mungkin pakai pakaian seksi seperti kemarin. Papamu bisa marah jika melihatnya”
“papa nggak akan melihatnya. Papa kan keluarnya jam 5 sore. Sebelum jam 5 kita sudah kembali ke hotel” aku mencar- alas an
“tapi, pakaiannya kan ada di kostmu” ( ibu tak mau membawa pakaian yang kubelikan bulan lalu kembali ke Jakarta, sehingga ditinggal di lemari kostku )
“nih, aku udah bawa” jawabku sambil mengeluarkan sehelai kaos “u can see’ ngepress gantung warna merah dan plus rok pendek dari bahan kain biasa. Tak lupa sehelai g – string dan Bra yang talinya terikat dileher.
“ya udah, kamu tunggu di sini. Ibu ganti dulu” kata ibuku sambil mengambil pakaian tadi dariku dan hendak menuju kamar madni
“mau ganti di mana?”
“kamar mandi”
“kelamaan mama. Ganti sini aja biar cepet”
“ibu nggak mau bugil depanmu”
“santai aja. Aku kan udah pernah liat”
“kamu masih ingat pesan mama bulan lalu kan? Itu yang terakhir”
“iya, masih ingat. Aku, nggak akan nyentuh mama walau mama ganti bugil depanku “
Selang beberapa menit kemudian ibuku sudah melepaskan semua pakaiannya dan bugil di depanku. Lalu, memakai pakaian yang aku berikan. Ibu kelihatan seksi dengan pakaian itu. Belahan dadanya yang putih Nampak kelihatan. Pinggangnya yang dihiasi tali g – string Nampak jelas keliatan saat ibu bergerak dan kaosnya tertarik ke atas. Melihat itu membuat aku sangat horni.
Aku dan ibu menuju ke sebuah tempat karaoke yang cukup terkenal. Awalnya kami bernyanyi sambil duduk. Jarak kami pun agak berjauhan. Hingga akhirnya saat music lagu Endlesslove berbunyi, ibuku berdiri. Ibu menarikku untuk ikut berdiri dan berduet dengannya. Kami berdiri bersebelahan. Aku menyanyikan ayat yang pertama. Ibu menyanyikan ayat kedua. Dan seterusnya bergantian. Saat memasuki lirik “Two hearts,
Two hearts that beat as one Our lives have just begun” yang harus dinyanyikan berdua, aku berpindah berdiri di belakang ibuku. Mic ku simpan, kami menggunakan satu mic yang dipegang ibu. Kurangkul pinggangnya dari belakang. Ibuku tak memberi respon dan terus bernyanyi. Mulutku kuletakkan persis dibelakang telinganya. Aku mengambil mic dari tangannya lalu membuangnya ke lantai. Sementara music masih terus berjalan. Aku memegang kedua tangan ibuku persis di depan perutnya. Kucium pipinya. Ibu masih terus bernyanyi sambil memejamkan mata. Kubalik tubuh ibuku hingga kami berhadapan. Kucium bibirnya. Ibu berhenti bernyanyi tapi tetap memejamkan mata. Selang beberapa menit kemudian ibu merespon ciumanku dengan French kiss. Kami saling berlumat. Tangaku refleks ngeremes toket ibu. Aku pelorotin bajunya yang udah agak kebawah. Tanganku satunya ‘main’ dibawah roknya. Perlahan kubimbing ibuku yang masih terus memejamkan mata itu ke tepi sofa. Aku mengarahkannya untuk nungging sambil berpegangan pada tepi sofa. Aku pukul-pukul mesra pantatnya, sementara aku keluarin penisku yang udah keras itu…lalu aku tarik pantatnya kebelakang, angkat roknya dikit, plorotin g – stringnya, arahin tangannya supaya nuntun penisku ke liangnya, ibu masih terus menutup mata dan dari mulutnya kedengaran masih menyanyikan lagu endless love. Kupegang pinggang ibu dan menariknya maju mundur. Rambut panjangnya terurai jatuh menutupi wajahnya. Lalu ibu menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya dengan tangan kanan. Ia melepaskan liangnya dari batang kemaluanku dan berdiri berhadapan denganku. Kali ini tak lagi memejam mata dan bernyanyi.
“kamu ini kenapa sih? Ibu kan udah bilang kemarin itu yg terakhir dan jangan sampai seperti ini. Ini udah kelewatan” ibu Nampak serius
“aku mencintaimu dewi!” jawabku.
“cinta antara kita bukan seperti ini caranya. Ini cinta antara suami istri”
“dewi, aku ingin mencintaimu seperti seorang pria mencintai wanita” aku terus menjawab. Ibu diam. Aku kembali mencium bibirnya. Kami berciuman dan tangan ibu melepaskan kemeja dan celana yang kupakai. Akupun demikian, melepaskan pakaiannya. Kami sama – sama bugil. Ibu berbalik dan kembali menungging di tepian sofa. Tangan kanannya menjulur ke belakang meraih batangku dan mengarahkan ke liangnya. Ibu menggoyangkan pinggulnya maju mundur. Ibu cuma bilang gini “setelah ini aku mau liat bagaimana cintamu itu (sambil mendesah perlahan dan menggit bibir bawahnya).” Aku semakin bernafsu menggenjot saat ibu mengibaskan rambutnya pantatnya turun naik perlahan. Kadang-kadang ibu lempar rambut panjangnya kedepan sampe nutupin muka, terus kibasin lagi kebelakang. Setelah beberapa menit maju mundur berasa juga ibu mulai kejang tanda orgasme, tangannya kebelakang memegang leherku dan menarik ke kepalaku mendekat ke wajahnya. Ibu memalingkan wajah ke belakang dan kami berciuman lagi sambil terus menggoyang pinggulnya. Lalu ibu melepaskan ciuman dan berbisik “ kalo mau keluar bilang ya”. Beberapa saat setelah ibu orgasme, aku berbisik di telinganya kalo aku mau keluar. Ibu melepaskan batangku dari liangnya. Berbalik menghadap ke arahku dan duduk di sofa. Sementara aku masih tetap berdiri. Ibu meraih batangku dan memasukan ke dalam mulutnya. Aku mengeluarkan peju dalam mulutnya. Setelah menelan pejuku, ibu masih menyedot batangku hingga lemes.
Ibu tertidur lemes di sofa. Masih dalam keadaan bugil. Aku jongkok di tepian sofa. Wajah kami saling bertatapan. Kubelai rambutnya, kukecup keningnya lalu kami kembali beciuman.
“wi, apa yang ingin kamu buktikan dariku?” aku bertanya
“cinta seperti yang kamu katakan tadi” jawab ibu. Aku lalu menariknya hingga ibu duduk. akupun duduk di sofa. Kami berhadapan. Kutatap wajahnya dalam – dalam. Dari ekspresinya kelihatan seperti gadis ABG yang malu – malu saat seorang pria menyatakan cinta padanya. Kupegang kedua tangannya lalu berkata “ akan aku buktikan itu. Bagaimanapun caranya “ setelah mengucapkan kata – kata itu, aku kembali menyanyikan lagu endless love. Ibu Nampak tersenyum, tapi air mata mengalir kecil dari matanya. Ibu mencubit pinggangku manja lalu memelukku.
Tak terasa sudah pukul 4 sore. Aku dan ibu berpakaian lalu kembali ke hotel. Sesampainya di hotel, papa masih di ruangan lokakarya. Aku mengantar ibu ke kamar, lalu ibu kembali mengganti pakaiannya, dan pakaian yang dikenakan tadi diserahkan kembali padaku. Kami lalu mengobrol. Beberapa menit kemudian, papa datang dan mengobrol dengan kami. Aku lalu pamit kembali ke kamarku. Sesampai di kamarku, aku mengirim sms ke nomor ibu “ love yiu dewi cantik “. Ibu membalas sms ku singkat “ Dasar genit. Love u 2”. Akupun akhirnya masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh.
Sehabis mandi, aku mengambil HP yang kuletakkan di atas ranjang. Ada dua panggilan tak terjawab dari ibu. Aku menelpon balik, tapi direject. Lima menit kemudian ibu menelpon balik
“maaf, tapi mama lagi sama papa”
“trus sekarang lagi di mana emangnya?” tanyaku
“nih, nelpon dari dalam kamar mandi” jawab ibu.
“tadi nelpon, emang ada apa?”
“Cuma pengen bilang, lain kali jangan sms seperti tadi. Ntar dibaca papa”
“iya deh”
“janji?”
“janji dewi sayang…”
“ya udah deh kalo gitu. Bye..”
“loh, kok Cuma bye?” kucoba menggoda ibu
“maunya apa?”
“cium dong..”
“ummmmmaaaa….” Suara ibu dari seberang telpon manja
“love u dewi cantik”
“love u 2 anak nakal…”

Mendandani ibu 1


Cerita ini adalah cerita sebenarnya, hanya nama saya yang saya ubah supaya tidak terlalu jelas jati diriku. Kisah ini kualami tahun 2005, saat mulai kuliah di kota Y. Aku, Hartomo, dari keluarga yang cukup mapan dan jakarta sehingga mengharuskan untuk kost di kota Y. Tempat kost saya adalah kost campur dengan kamar mandi berada di dalam kamar dan dihuni oleh 12 orang, 5 mahasiswa dan 3 perempuan dan 4 pasutri. Sejak kuliah di kota Y, ibuku mempunyai kebiasaan sering mengunjungi aku setiap akhir bulan. Setiap kali mengunjungiku, ibuku selalu menginap selama seminggu di kostku ( kebetulan ibuku seorang IRT . tak bekerja ).
Ibuku bernama Dewi, 35 tahun. Penampilan ibuku sangat menarik. Sebagai wanita yang tinggal di kota besar , jakarta dan istri seorang pungusaha sukses, cara berpakaiannya selalu glamour. Tidak murahan tapi berkelas dan menarik. Dengan tubuh tinggi semampai, dada 36, dan kulit yang putih.
Pada bulan pertama kunjungan ibuku, biasa – biasa saja. Ibuku menginap di kostku selama seminggu. Aku membeli 1 kasur tambahan, sehingga walau sekamar tapi aku dan ibuku tidur di kasur yang berbeda dan agak berjauhan ( maklum, kamar kostku agak luas ). Setiap ibu ingin berganti pakaian, aku selalu keluar kamar, begitu juga sebaliknya.

Pada akhir bulan kedua, ibuku kembali mengunjungiku. Seperti kebiasaannya, ia kembali menginap di kostku selama seminggu. Pada kunjungan kedua inilah, alu mengalami sebuah kejandian yang akhirnya membuat aku terobsesi dengan ibuku sendiri. Kejadian itu terjadi pada malam hari kira pukul 7. Aku sedang keluar membeli makanan untuk aku dan ibuku. Saat aku kembali, aku melihat ibuku udah mengganti pakaiannya dengan daster tidur. Daster biru tua polos yang leher bajunya rendah banget. Singkat cerita, kami makan bersama sambil duduk berhadapan. Karena di kamar kostku tidak ada meja, akhirnya kami makan sambil duduk lesehan dan piring diletakkan di lantai. Sewaktu waktu saat hendak menyuapkan nasi ke mulutnya, dengan tidak sengaja, Mama membungkuk kearah ku yang lagi asyik duduk di asyik makan. Kedua belah payudaranya yang tanpa beha hampir seluruhnya keluar dari leher dasternya. Aku hanya bisa melongo, batang kontolku langsung ereksi, kalau nggak cepat cepat aku ngacir, mungkin Mama bisa melihat separo batang kontolku yang udah keluar dari pinggang celanaku.
Suatu hari, aku benar benar ketiban rezeki. Nggak sengaja Mama memberikan tontonan yang membuatku terangsang berat. Seperti biasa setelah keluar kuliah, aku tidur siang, bertelanjang dada, aku hanya memakai blue jeans ketat kegemaranku. Sambil berbaring di kasurku, aku menemani Mama ngobrol mengenai acara kuliahku, Mama asyik dengan majalahnya. Entah kenapa, mungkin karena keasyikan ngobrol, Mama nggak sengaja jongkok tepat di depan mataku. Aku jelas – jelas melihat gundukan memeknya, mulus tercukur tanpa satu helai rambut. Ya ampun, mungkin Mama lupa memakai celana dalam !!!. Kontan aku jadi terangsang luar biasa. Saking terpananya, aku nggak peduli lagi sama batang kontolku yang udah menerobos keluar, menjulang gagah sampai ke atas pusarku. Aku baru sadar sewaktu Mama terbelalak melihat kontolku. Jelas-jelas saja Mama kaget, saking panjangnya,kontolku kalo lagi ereksi bisa sampe ke ulu hati.
Dengan wajah merah karena jengah, aku bangkit dan ngacir ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi ku buka resluiting jensku dan mulai mengocok kontolku sambil mencium Bra dan CD kotor miliku ibuku yang tergantung di kamar mandi. Sejak saat itu aku mulai terobsesi dengan ibuku sendiri. Bahkan saat ibuku hendak balik ke jakarta, aku menyembunyikan satu Bra dan CD-nya untuk teman onaniku selama ibu di jakarta.
Pada akhir bulan ketiga, sebelum datang berkunjung, ibuku terlebihi dahulu menelpon. Dalam pembicaraanku dengan ibu di telpon, ibu mengatakan agak merasa sedikit ribet kalo harus bolak – balik dengan membawa barang bawaan yang banyak. Mendengar itu, ide isengkupun muncul. Aku meminta ibu untuk tidak perlu membawa apa – apa saat berkunjung dan menawarkan untuk membelikan pakean untuk keperluan ibu selama seminggu. Ibuku pun menyetujuinya.
Menjelang kedatangan ibu, aku menggunakan sisa uang jajanku untuk membelikan pakaian untuk ibuku sesuai ukuran yang telah disampaikan. Aku memilih pakaian – pakaian yang sering kulihat dipakai para cewek – cewek di club malam. Akhirnya, aku membeli beberapa potong hot pant, kemeja tipis yang ukurannya aku pesan sedikit lebih kecil dari ukuran ibuku, beberapa dress minim, lingerie dan Bra serta G-string yang seksi.
Saat ibuku tiba, ia agak kaget melihat persediaan pakaian yang aku belikan untuknya. Pada awalnya dia menolak, tapi setelah agak kupaksa dengan mengatakan bahwa ibu akan kelihatan lebih muda dan cantik dengan berpakaian seperti itu, ibu akhirnya mau.
Sejak saat itu lah pertualanganku dimulai. Selama seminggu mengunjungiku, aku dan ibu sering jalan berdua dengan ibuku yang menggunakan pakaian – pakaian yang seksi. Suatu sore, aku dan ibuku jalan – jalan ke sebuah mall. Ibuku mengenakan hot pant berwarna pink dan kemeja putih lengan pendek. Tali Bra-nya nampak terlihat terikat di balik tengkuk. Selama berjalan – jalan di mall, aku selalu menggandeng tangan ibuku, merangkul bahunya dan akhirnya merangkul pinggangnya. Sesekali tanganku turun ke bokongnya. Saat tanganku di bokokngnya, ibuku hanya mencubitku dan berkata lepaskan.
Setelah bosan jalan – jalan, akhirnya aku dan ibu memutuskan untuk pulang ke kost. Sesampainya di kost ibu langsung mengambil handuk dan hendak mandi,. Sebelum masuk ke kamar mandi, ibuku terlebih dahulu mengambil pakaian ganti di lemari. Kulihat pakaian yang lain telah kotor dan belum dicuci. Yang tersisa di lemari hanya celana dalam g-string warna merah dengan renda-renda yang sexy dan sebuah gaun malam berwarna pink dengan bahan satin. Gaun malam itu semi transparan, jadi tidak akan transparan bila dilihat dari dekat, tetapi akan menampakkan lekuk tubuh pemakainya bila ada latar cahayanya. Panjang gaun malam itu hanya 10 cm dari selangkangan. Di bagian pundak hanya ada 2 tali tipis untuk menggantung gaun malam itu ke tubuh. Bila kedua tali itu diturunkan dari pundak, dijamin gaun malam akan meluncur ke bawah dan menampakan tubuh yang telanjang tanpa halangan. Semua itu sudah aku rencanakan sebelum ibuku tiba.
Saat ibuku mandi, aku duduk sambil menonton tv. Jantungku berdebar menanti pemandangan apa yang bakal aku lihat saat ibu keluar. Beberapa menit kemudian ibu keluar dari kamar mandi menggunakan gaun yang tadi diambilnya dan kembali memakai Bra yang tadi dipakai ke mall. Saat ibuku sedang mengeringkan rambutnya, aku prtoes
“ Bukannya Bra itu udah ibu pakai dari tadi pagi? “
“iya, emang napa” sahut ibuku
“ seharian kan kita diluar rumah. Bra itu pasti udah banyak kena keringat. Nggak sehat ma”
“Bra mama udah pada kotor. Ini yang terakhir “
“ya udah nggak usah pake bra aja, daripada mama ke penyakit kulit karena pake bra kotor”
Setelah aku memaksa, akhirnya ibuku menuruti. Ibuku kembali ke dalam kamar madni untuk melepas bra-nya. Ibu keluar kembali sudah tidak menggunakan bra. Putingnya nampak keliatan di balik gaun tipis itu. Hal itu membuatku saat horni, sehingga saat giliranku mandi, aku berlama – lama di kamar mandi untuk beronani dengan pakean dalam bekas ibu.
Pada saat makan mala, aku pura – pura menumpahkan minuman ke atas kasurku, sehingga aku bisa punya alasan untuk tidur sekasur dengan ibuku malam ini. Ibuku udah lebih dulu tidur, aku masih nonton. Saat ibu tidur, Gaun malamnya tersingkap sehingga memperlihatkan g-string yang ibu pakai. Tali gaun tidurnya yang sebelah kiri merosot ke siku sehingga puting payudaranya sebelah kiri nongol sedikit. Melihat itu, aku horni hingga ubun – ubun kepala. Aku udah nggak tahan lagi untuk menyentuh tubuh ibuku dan menyetubuhinya. Tapi, aku nggak berani. Aku akhirnya hanya mengocok batangku persis di depan wajah ibuku yang sedang tertidur pulas. Saat pejuku hendak keluar, aku arahkan ujung batangku ke dada ibuku sehingga pejuku tersembur mengenai dadanya. Ibuku tersadar saat pejuku mengenai kulit payudaranya. Aku buru – buru menaikan celanaku. Ibuku hanya membersihkan pejuku di payudaranya dengan gaun tidurnya tanpa bertanya. Beberapa menit kemudian ibu bergeser dan menyuhku tidur di sampingnya.
Akupun akhirnya tidur di samping ibuku. Menjelang dini hari, aku terbangun. Malam itu aku tidak bisa tidur membayangkan tubuh ibuku, gila pikirku dalam hati dia ibuku, tapi.. akh.. masa bodoh pikirku lagi. Aku mencoba onani lagi untuk "menidurkan burung"-ku yang berontak minta masuk ke sarang nya. Gila pikirku lagi.
Dengan gemetar aku mencoba membelai paha ibuku yang putih mulus dan sangat seksi, dengan tangan bergetar aku membelai dan menelusuri paha ibuku dan terus naik ke atas. Kemaluanku sudah sangat keras dan terasa sakit karena batang kemaluanku terjepit oleh celanaku. Aku kemudian membuka celanaku dan keluarlah "burung perkasa"-ku yang sudah sangat keras. Aku kemudian mencoba mencium leher dan bibir ibuku. Aku mencoba meremas payudara ibuku yang besar dan montok, aku rememas payudara ibu dengan perlahan. Takut kalau ia bangun. Tangan kiriku terus mengocok batang kemaluanku hingga menyemprotkan peju ke bokong ibuku.
Pada malam berikutnya, aku semakin berani menggerayangi tubuh ibuku. Saat ibuku sudah terlelap, aku pindah dari kasurku ke kasur ibu. Perlahan – lahan aku menarik daster yang dipakainya ke atas hingga bagian dada. Tubuh ibuku yang sexy hanya terbalut bra putih setengah cup dan celana dalam satin putih berenda sexy terpampang di depanku. Aku kemudian mencium buah dadanya dan menghirup keharuman tubuhnya. Setelah itu, aku menarik sedikit cupnya, mengeluarkan putingnya dan menghisap serta menjilat-jilatnya. Waktu itu tidak ada sedikitpun reaksi dari ibuku. Berulang-ulang aku menikmati buah dadanya dari yang sebelah kiri, ke kanan, ke kiri dan seterusnya sampai aku betul-betul puas. Remasan, gigitan, jilatan dan ciuman menghujani kedua buah dada ibuku itu.
Aku kemudian menarik celana dalam yang dipakainya agak ke bawah. Aku membuka kedua belahan kakinya dan mulai menjilati liang kewanitaannya. Walaupun tertidur, rupanya tubuh ibuku memberikan reaksi terhadap apa yang aku lakukan. Cairan kewanitaannya mengalir dari liang itu dan segera saja dijilati olehku. Setelah beberapa saat menjilat-jilat kemaluan ibuku, aku tidak tahan lagi. Aku jongkok di depan ibuku dan mengocok batang kemaluanku. Ujung batang kemaluanku aku arahakan ke vaginanya, hingga pejuku menyembur keluar dan membasahi selangkangannya. Setelah terselesaikan birahiku, aku kembali merapikan pakaian ibuku dan kembali tidur di kasurku. Kira – kira 15 menit kemudian kudengar ibuku bangun dan masuk ke kamar mandi. Saat keluar kulihat ibu telah mengganti semua pakaiannya mulai dari Bra, CD dan daster.
Keesokan harinya, ibuku meminta aku membelikan tiket kereta api untuknya. Ibu ingin pulang hari ini juga. Aku sangat ketakutan. Aku takut ibu mengetahui kelakuanku semalam dan hendak pulang menyampaikannya kepada ayahku. Siang harinya sebelum ibu pulang, aku mengajak ibu jalan – jalan. Ibuku masih bersikap seperti biasa. Masih menggunakan pakaian – pakaian seksi yang kubelikan. Selama jalan berdua, kami tak banyak bicara. Aku mengajak ibuku nonton bioskop. Ibu menyetujuinya. Saat di dalam ruangan bioskop, aku curi – curi kesempatan untuk merangkul ibuku. Ibu tetap bersikap seperti biasa dan diam aja saat kurangkul bahunya lalu perlahan menarik kepalanya untuk bersandar di bahuku. Ibuku bersandar di bahuku selama film diputar. Tangan kananku mengelus- elus rambutnya dan tangan kiriku menggenggam tangan kanan ibuku.
Aku tidak fokus pada filmnya. Aku lebih fokus pada ibuku yang sedang bersandar di bahuku. Dengan ragu – ragu aku mencoba mencium keningnya. Ibuku hanya diam.
“ ibu beneran mau pulang jakarta malam ini?” bisikku
“iya beneran “
“sekarang kan udah jam 5. Kereta ibu berangkat jam 6 “
“ ya udah nggak jadi deh kalo gitu “ jawab ibuku tanpa mengangkat kepalanya dari bahuku.
“ kalo gitu, setelah ini ibu mau nggak aku ajak ke suatu tempat yang indah?” tanyaku
Ibuku memandangiku sambil mengangguk manja. Tingkahnya ini membuatku semakin bernafsu ingin mencium bibirnya saat itu juga.
Pada malam harinya, aku mengajak ibuku ke suatu daerah perbukitan di pinggiran kota. Di sana banyak cafe – cafe romantis yang menawarkan pemandangan kota pada malam hari dari puncak bukit. Cafe yang kami masuki terdiri dari dua lantai dengan lantai dasarnya agak turun ke bawah jurang, sehingga tidak terlihat dari jalan maupun parkiran. Jam menunjukkan pukul 02.00. di lantai dasar hanya ada aku dan ibu, sedangkan di lantai atas, ada beberapa orang mahasiswa yang sedang asyik ngobrol.
Aku dan ibu asyik ngobrol ngalor – ngidul sambil menikmati kopi yang kami pesan. Tak lama kemudian ibu berdiri dan menatap ke arah lampu – lampu kota yang berkilau di kejauhan. Tanpa menoleh, ibu berkata
“mama tau dua malam berturut – turut ini kamu mengocok batang kemaluanmu di depan ibu yang tertidur dan melempaskan pejumu di tubuh ibu “ aku kaget dan tak dapat berkata apa – apa. Ibu melanjutkan lagi “ dan bahkan malam keduanya kami sampai berani menelanjangi ibu. Sebenarnya apa yang kamu pikirkan? Aku ini ibumu “ aku hanya diam tak bisa menjawab. Ibu juga masih belum menoleh ke arahku. Dari belakang kulihat ibu menggosok – gosok lengannya seperti orang kedinginan. Kebetulan malam ini, ibu hanya memakai sebuah gaun mini tanpa lengan.
Aku tak menjawab pertanyaan ibuku tadi. Aku berdiri membawa jacket dan memakaikannya kepada ibuku dari belakang.
“ mama kedinginan ?” tanyaku
“ iya. Daerah ini sangat dingin “ jawab ibuku masih tanpa menoleh
“ ya udah kalo gitu kita pulang aja ma “
“ kamu belum menjawab pertanyaan mama tadi. Jawab dulu dan kita pulang “
“ aku nggak mau jawab kalo mama nggak mau noleh ke aku “ jawabku bingung
Ibuku membalik badannya dan menghadap ke arahku. Kami berdiri sangat berdekatan, sehingga aku bisa melihat wajahnya dengan sangat jelas. Ibu yang kebetulan lebih pendek dari aku, menengadah dan memandang wajahku. Kami diam beberapa menit. Aku bingung mau jawab apa. Kami hanya diam dan saling berpandang. Kusentuh pipi ibuku dengan kedua tanganku. Aku agak menunduk mencium kening ibuku dan akhirnya mencium bibirnya. Ibuku tampak tak menolak, hanya tetap diam.
“kenapa?” ibuku kembali bertanya
“aku sangat mencintaimu dewi. Aku ingin memilikimu dewi” jawabku dengan langsung menyebut nama ibuku.
“apa? Kamu memanggilku dengan sebutan dewi. Aku ibumu” tanya ibuku dengan ekspresi yang kaget.
“iya. Kalo aku memanggil ibu, aku akan takut untuk mencium bibirmu” jawabku santai. Ibuku nampak mau tersenyum tapi ditahannya. Kembali kupegang kedua pipi ibuku lalu aku bertanya lagi
“dewi, kamu mau jadi kekasihku?” walaupun ibuku menunjukkan ekspresi kaget, tapi ia tidak bisa menyembunyikan wajahnyanya yang terlihat seperti hendak terntawa. Tanpa menunggu ibuku bereaksi, aku udah kembali mencium bibirnya. Kali ini aku mencoba memasukan lidahku ke dalam mulutnya. Ibu membuka bibirnya perlahan dan membiarkan lidahku bertemu dengan lidahnya. Beberapa menit kemudia, ibu mendorong tubuhku dan berkata
“aku mau ngomong. Tapi nggak bisa gara – gara ciumanmu”
“kamu mau bilang apa dewi?”
“ayo kita pulang. Kita bicarakan lagi apa yang telah terjadi di kost”
Aku dan ibu pun akhirnya pulang. Sebelum sampai di kost, ibu meminta untuk singgah di sebuah minirmarket lalu membeli sebotol minuman ringan. Saat memasuki kamar kost, aku harap – harap cemas apa yang akan dikatakan ibu. Aku duduk di atas kasur. Ibu meletakkan minuman ringannya di atas lantai di depanku lalu mengambil pakaian di lemari dan masuk ke kamar mandi. Saat ibu keluar, ia menggunakan Daster biru tua polos yang leher bajunya rendaah banget. Tidak pakai bra, payudaranya gampang banget diintip lewat leher baju itu, Perfect. Ibu duduk di depanku dan membuka botol minuman.
“wi, ngapain subuh – subuh gini minum kayak gituan?”
“ udah deh, kamu diam aja. Aku nggak mau kamu sampe khilaf dan memperkosaku. Makanya hanya ini yang aku mau kasi “ jawab ibu dan langsung mencium bibirku. Aku membalas ciuman ibu. Tak lama kemudian ibu melepaskan bibirnya dari bibirku.
"Aku sengaja pake daster ini, jadi kalau kamu mau grayang-grayang and kissing-kissing payudara Aku kan gampang, tinggal tarik dikit, beres. Dan untuk anumu tuh, aku hanya bisa ngasih handjob “
Aku tersenyum, dan memeluk ibu. Pelukanku erat . Aku bisa merasakan jantung ibu berdetak agak lebih kencang. Aku bisa merasakan napas ibu agak memburu. Dan Aku bisa memberikan kecupan-kecupan dan belaian lidah di leher ibu, turun ke dada, ke payudara , Uhh.. enaknya. Sementara tangan ibuku terus mengocok kemaluanku. Tanganku mencoba masuk ke selangkangan ibu, tapi ibu menolak. Aku hanya boleh menjamah perut ke atas. Beberapa menit kemudian aku merasakan pejuku akan segera keluar. Kupejam mataku dan berbisik “ dewi.... aku mau keluar dewi..... “
“ooohhhh dewi.... aku mau nyampe..........”
Cepat-cepat ibu ambil botol minuman ringan tadi ,ibu minum seteguk (tapi nggak ditelan). Lalu.. ibu masukkan batang kemaluanku ke mulutnya, sambil terus mengocok batangku hingga akhirnya pejuku keluar dan ibu menelannya bersama – sama dengan minuman tadi.
“ I love you Dewi....”
“ssssstttt... buruan tidur. Ini yang pertama dan terakhir. Mulai besok aku kembali menjadi ibumu seperti semestinya. Kalo kamu horni, aku akan carikan kamu wanita bayaran “.